Friday, November 04, 2011
The video of the Canonization of the founder of the Xaverian Missionary
http://www.youtube.com/watch?v=UjpTcYkiRno
http://www.ktotv.com/videos-chretiennes/emissions/nouveautes/direct-de-rome-canonisation-de-3-bienheureux/00062104
Wednesday, October 19, 2011
Please watch the canonization of the Blessed Guido Maria Conforti on live and on line on Mission Sunday, 23 October 2011 at 10 a.m to 12 a.m. (Italian time), so in Japan will be at 17.00 to 19.00
Tomorrow morning on Friday, October 21st 2011, I will join the group of pilgrimage to Italy for the canonization of the founder of the Xaverian missionaries, Blessed Guido Maria Conforti that will be held in Vatican on Mission Sunday, October 23rd 2011 at 10 a.m to 12 a.m. local time of Italy. It will be on air and on line that can be watched on:
http://www.vatican.va/video/index.html
Saturday night, October 29th 2011, I will be arrivng at Kumamoto.
Besok dengan rombongan umat Jepang dari bandara fukuoka, saya akan berziarahke Italia dalam rangka kanonisasi pendiri Xaverian, Guido Maria Conforti menjadi santo di Vatikan yg diselengarakan hari Minggu misi sedunia, 23 oktober 2011 dan bisa ditonton on live dan on line di :
http://www.vatican.va/video/index.html
Tgl 29 Oktober 2011 malam sudah kembali di Kumamoto.
Sunday, October 02, 2011
Missionaris Xaverian di Jepang (Alexander Denny Wahyudi,sx)
Missionaris Xaverian di Jepang (Alexander Denny Wahyudi,sx)
Misionaris Xaverian mulai berkarya di Jepang sejak tahun 1949. Seperti misi-misi Xaverian di negara lain seperti di Indonesia, beberapa misionaris yang diusir dari tanah misi Cina mengalihkan misi mereka juga di negeri matahari terbit ini termasuk ketiga imam Xaverian berasal dari Cina. Di Jepang ada 34 imam Xaverian yang sekarang sedang berkarya di berbagai bidang diantaranya pastoral paroki dengan beberapa lembaga pendidikan Katolik Taman Kanak-kanak, tenaga pengajar di sekolah menengah dan universitas, karya seni, dialog antar agama dan pusat studi dan riset budaya (Asian Study Center) . Wilayah karya misi Xaverian di Jepang terbagi dalam dua zona yaitu Kansai meliputi Osaka (termasuk Takamatsu) dan Kyushu (Miyazaki, Kagoshima dan Kumamoto) yang masuk dalam 5 keuskupan yaitu Osaka, Takamatzu, Fukuoka, Oita dan Kagoshima. Kami sebagian besar tinggal dan berkarya di satu paroki dan setiap bulan (sekali atau dua kali) para Xaverian berkumpul bersama di masing-masing zona untuk pertemuan kekeluargaan, informasi atau pun rekoleksi. Dari ke-34 Xaverian ini ada 5 orang yang bukan berasal dari Italia yaitu 2 Spanyol, 1 Brasil, 1 Mexico dan saya sendiri dari Indonesia. Bahasa pengantar dan dokumen yang dipakai di kalangan Xaverian di Jepang ini adalah bahasa Italia maka sebelum tinggal di Jepang saya mendapat tugas mempelajari bahasa Italia di Ancona, Italia selama 10 bulan. Pengalaman belajar bahasa Italia ini yang pasti memberikan bekal tersendiri bagi saya untuk lebih memahami budaya dan bahasa leluhur serta asal keluarga Xaverian yang sekarang sudah mencakup keanggotaannya dari berbagai bangsa dan benua di dunia.
Gereja Katolik Jepang terbagi dalam 16 keuskupan dan semua uskup adalah orang Jepang sendiri dengan jumlah umat Katolik Jepang sekitar 450 ribu orang dan 500 ribu orang Katolik dari negara lain seperti negara-negara Amerika Latin, Philipina, Indonesia dan negara lainnya. Kalau saya ditanya apa kesan kehidupan gereja Katolik di Jepang? Biasanya saya jawab gereja Katolik di Jepang seperti gereja bonsai dengan jumlah umat yang sedikit, mayoritas ibu-ibu lansia dan rasanya sulit memberikan harapan cerah di masa depan kalau melihat situasi sekarang ini yang serba terbatas dalam sumber daya manusia. Ada satu keuskupan yang hanya memiliki umat Katolik sekitar 5.000 orang, kalau di Indonesia sejumlah ini hanya untuk satu paroki saja. Kebanyakan umat Jepang yang hadir dan aktif dalam kegiatan gereja telah berusia senja dan ini bisa terlihat juga dalam biara-biara para suster juga banyak yang berusia di atas 65 tahun. Situasi hidup menggereja di Jepang mengkondisikan satu imam menangani satu atau beberapa gereja sekaligus karena keterbatasan tenaga imam asli Jepang sendiri yang berjumlah hanya sekitar 500 orang (usia medium 62 tahun) dan terdapat sekitar 1.000 imam misionaris (usia medium 67 tahun) dari berbagai tarekat religius dan misi. Sedangkan satu gereja memiliki sedikit umat kalau dibandingkan dengan gereja-gereja di Indonesia. Di Jepang satu paroki memiliki rata-rata 100-800 orang saja sedangkan jumlah gereja dan paroki demikian banyak. Kalau dihitung ada sekitar 25 paroki yang dilayani oleh Xaverian. Hal ini mau tidak mau satu imam tinggal dan hidup sendiri di satu paroki yang relatif kecil itu. Ada usaha untuk membentuk satu komunitas hidup Xaverian namun melihat keadaan yang ada cukup sulit untuk diwujudkan. Paling tidak ada satu gereja di mana tinggal dua Xaverian yang menangani dua paroki atau lebih, atau seperti saya sendiri yang baru saja selesai studi bahasa Jepang sejak setahun lalu ditugaskan menjadi pastor pembantu di satu gereja terbesar di kota Kumamoto dengan pastor kepala parokinya seorang imam projo Jepang (70 tahun). Biasanya setelah menyelesaikan studi bahasa selama 2 tahun, seorang Xaverian ditugaskan menjadi pastor pembantu di satu gereja baik dengan pastor paroki Xaverian atau projo dan setelah dirasakan mampu berkarya sendiri setelah kurang lebih 5 tahun hidup di Jepang maka tiba waktunya diberikan tugas menjadi kepala paroki di satu gereja.
Apa yang menjadi tantangan bermisi di Jepang? Tidak diragukan bahwa Jepang adalah negara misi bagi misionaris karena sangat sedikitnya umat, sekitar 0.3 persen (450 ribu orang) dari 127 juta penduduk yang ada. Meskipun secara materi dan ekonomi berkelimpahan namun nilai-nilai Injil Yesus bagaikan tanah berbatu yang dikelilingi duri dan banyak benih-benih Kristiani yang pernah tersebar hilang dilahap oleh burung-burung yang memangsanya dengan cepat. Banyak hal yang ditiru dari budaya Eropa dan Amerika namun sayangnya nilai-nilai Kristiani yang telah pudar pula dari benua asal misionaris ini juga menular ke Jepang sehingga karya misi dewasa ini sangatlah sulit. Menurut laporan situasi misi di Jepang yang dituliskan oleh propinsial Serikat Xaverian di Jepang beberapa tahun lalu, tantangan misi di Jepang adalah:
1. Tantangan sejak awal adalah masalah budaya dan bahasa yang sangat berbeda yang menuntut ketelatenan dan kesabaran ekstra serta tekanan psikologis bagi misionaris asing bahwa dirinya tidak diterima dengan baik oleh orang Jepang dan kehadirannya tidak membawa banyak arti bagi perkembangan gereja lokal.
2. Kesadaran bahwa terdapat tragedi pengikisan nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat yang berakibat pada bertumbuh pesatnya budaya materialistik yang berpusat pada motif ekonomi dan menjauhkan diri dari nilai-nilai spiritual dan hati nurani.
3. Di dalam gereja, kami kadang-kadang menemukan akibat negatif dari teologi “pluralist” yang terlalu menekankan karya Allah melalui Roh Kudus dan Sang Sabda yang telah ada dalam masyarakat, budaya dan agama yang ada di Jepang sehingga karya gereja hanya mendukung karya yang terbatas dan pewartaan Injil serta pentingnya pertobatan menjadi Kristiani tidak menjadi prioritas utama.
4. Dewasa ini, kelompok pastoral gereja dan permintaan beberapa keuskupan dengan keraguan dan ketidakpastian atau kurangnya kemampuan dalam kepemimpinan menjadi tantangan yang nyata bagi perkembangan gereja. Seorang imam misionaris berkarya tidak lebih dari seorang imam projo daripada mengembangkan karismanya sebagai misionaris. Berbagai macam tarekat misi dewasa ini secara terbuka berusaha mencari terobosan baru dalam karya pewartaan Injil sebagai karya utama mereka dan bagaimana karisma misi mereka dapat diwujudnyatakan dalam konteks misi di Jepang. Namun tanggapan para uskup tidaklah begitu menggembirakan karena kami diarahakan untuk tetap pada tugas dan karya kami di tempat yang telah ada. Lebih jauh lagi para uskup hanya mengharapkan bahwa para misionaris yang masih bisa bertahan dapat mengisi kekurangan imam projo yang semakin berkurang jumlahnya.
5. Kesulitan yang cukup berat lainnya adalah dalam hal keberadaan personel yang semakin menua dan sedikit tanpa tambahan tenaga baru yang berarti. Hal ini dapat menciptakan ketidakpastian di masa yang akan datang dan hampirlah tidak mungkin memberikan persiapan yang cukup untuk misionaris yang baru dan kesulitan dalam rotasi penugasan di pos dan karya baru. Ketidakpastian dalam hal jumlah misionaris yang siap sedia berpindah tugas dan seringnya rotasi pemindahan tugas dapat mengakibatkan karya misi yang telah ada sulit untuk terus dilanjutkan dengan baik. Kendala ini mau tidak mau membuat pengaturan tugas para misionaris ini terbatas pada apa yang sudah ada dan mencoba untuk tetap bertahan hidup daripada memikirkan pandangan ke depan dan rencana-rencana baru yang lebih sesuai dengan kehadiran dan kegiatan yang lebih sesuai dan konkret dalam situasi yang ada sekarang.
5. Kesulitan dalam pewartaan pertama. Jepang memiliki kebutuhan yang sangat mendesak dan menetap dalam pewartaan Injil pertama namun hal ini tidaklah mudah dijawab. Sayang sekali sangat sedikit orang Jepang yang tertarik dan mendekati gereja dan sedikit yang berkeinginan mendengarkan kami. Bagaimana kita dapat menjangkau mereka? Kita tidak boleh hanya menunggu mereka datang melihat kesaksian hidup kita. Kita hendaknya dapat belajar dari karya Santo Fransiskus Xaverius dan para misionaris awal yang buahnya memang dari awal sedikit hingga saat sekarang. Bagaimana kita dapat mewujudnyatakan jawaban atas tantangan ini dalam taraf pribadi dan komunitas?
Pengalam pribadi saya sebagai misionaris Xaverian dalam 3 tahun ini di Jepang.
Setelah saya menyelesaikan sekolah bahasa Jepang saya baik di YWCA (6 bulan) dan YMCA (1, 5 tahun), akhirnya saya mendapatkan tugas di satu paroki masih di kota Kumamoto yaitu Tetori dengan pastor kepala paroki seorang pastor projo, Pastor Makiyama yang berasal dari Nagasaki. Bagaimana saya bisa diterima di paroki ini? Cerita singkatnya, setelah 9 bulan tinggal di Jepang saya memberanikan diri untuk misa di gereja paling besar di Kumamoto dengan jumlah umat sekitar 800 orang ini. Saat saya minta ijin dari pastor Makiyama ini untuk ikut berkonselebrasi bersamanya dalam misa hari Minggu, malahan saya ditanya apakah saya bisa mempersembahkan misa dalam bahasa Jepang. Maka langsung saya jawab bahwa saya sudah biasa mempersembahkan misa harian saya dalam bahasa Jepang. Akhirnya dia malahan memberikan kesempatan buat saya untuk memimpin misa di hari Minggu dan dia yang berkhotbah. Suatu pengalaman yang tidak pernah terlupakan buat saya pribadi karena memang sebelumnya saya tidak pernah sama sekali mempimpin misa di hadapan umat Jepang apalagi di hari Minggu. Dengan terharu dan bangga saya dapat menjalankan tugas dengan baik di misa hari Minggu itu yang tentunya tata cara misanya semua dalam bahasa Jepang dan tulisan Jepang. Saya berpikir inilah hasil dari belajar saya sendiri dari bagaimana cara membaca tulisan Jepang dengan suara lantang baik buku misa bahasa Jepang, bacaan kitab suci harian dan hari minggu. Memang di sekolah dan di komunitas Xaverian tempat saya tinggal tidak ada yang memberikan pelajaran ini tapi dengan inisiatif sendiri saya dengan senang hati belajar sendiri. Sampai suatu saat ada satu suster FMM Jepang, Suster Nishioka yang berusia 85 tahun yang bersedia memberikan pelajaran bahasa Jepang buat saya khusus dalam membaca buku brevir bahasa Jepang. Setelah pengalaman misa pertama dalam bahasa Jepang itu, saya diminta oleh pastor paroki Tetori itu untuk mempersembahkan misa setiap minggu pertama tiap bulan untuk misa internasional yang sebenarnya adalah misa bahasa Jepang dengan beberapa lagu dan bacaan kedua dalam bahasa Inggris. Dengan senang hati pula saya menjawab undangannya termasuk makan siang setelah misa di restaurant dekat gereja yang terletak di pusat kota Kumamoto ini. Suatu saat pastor kepala paroki ini memberikan tawaran buat saya bahwa setelah selesai sekolah bahasa Jepang selama 2 tahun, kalau saya bersedia saya diperbolehkan tinggal dan membantu di paroki Tetori ini. Hal ini saya sampaikan kepada pimpinan Xaverian di Jepang dan dengan inisiatif dari propinsial saya ini akhirnya saya “dititipkan” atau diutus ke paroki ini setelah genap saya belajar bahasa Jepang 2 tahun. Dengan senang hati pula saya menjalankan tugas perutusan ini meskipun awalnya agak terkejut juga karena secepat itukah saya harus bermisi.
Saat ini genap setahun saya tinggal di paroki Tetori ini yang memiliki pastoran baru dua lantai yang baru selesai direnovasi 2 tahun sebelumnya. Di samping gereja ini ada sebuah hotel menjulang tinggi yaitu Hotel Nikko Kumamoto. Kalau saya bandingkan dengan kamar hotel ini, saya kira kamar saya masih lebih luas dan nyaman. Inilah rahmat yang nampak dari apa yang saya sedang jalani sekarang ini. Seumur-umur saya baru pertama kali ini memiliki tempat tinggal dengan sebuah kamar pribadi yang sangat luas dan baru lagipula tiap sabtu pagi ada yang membersihkan. Awalnya saya merasakan tidak layak karena saya sudah terbiasa tinggal di kamar yang kecil atau bersama konfrater lain saat di Indonesia atau tempat saya tinggal sebelumnya. Namun lambat laun saya terbiasa dengan situasi dan fasilitas yang tersedia sebagai berkat tersendiri dari Tuhan dan umat yang penuh perhatian pada gereja. Karena ini rahmat Tuhan semata, jadi suatu saat apabila saya harus berpindah mungkin di tempat yang lebih kecil dan lebih tidak nyaman dari tempat sekarang, saya harus siap juga menerima dengan lapang dada. Inilah gaya hidup sebagai hamba yang siap sedia menerima apa yang disedikan oleh gereja setempat di mana saya akan ditugaskan kelak. Yang terpenting adalah bukan hal yang nampak lux atau nyaman tapi bagaimana saya harus bisa selalu mensyukuri apa yang tersedia dan bagaimana saya bisa melayani umat dengan penuh semangat dan cinta.
Selama setahun saya di paroki Tetori ini saya mendapatkan beberapa tugas dari pastor paroki seperti misa harian di susteran tiap pagi jam 6 dari hari senin-sabtu dan juga misa hari minggu. Saya pun ditugaskan mengepalai para guru sekolah minggu bina iman di paroki ini. Di hari Minggu juga saya mengajar anak-anak kelas 5 ke atas yang berjumlah sekitar 8 orang. Sekolah minggu ini diikuti oleh untuk anak-anak yang kebanyakan adalah memiliki ibu berasal dari Philipina dan beragama Katolik yang menikah dengan orang Jepang. Sejak 4 bulan lalu saya mengajar satu katekumen, seorang ibu dengan satu anak berusia hampir 3 tahun, dalam bahasa Jepang. Dalam hal sakramen dan sakramentalia saya baru kali ini sebagai imam setelah 4 tahun ditahbiskan, menjalankan tugas pastoral secara penuh seperti pemberkatan rumah, sakramen pengurapan orang sakit, misa dan ibadat untuk orang meninggal, pembaptisan, sakramen pengakuan dosa, perkawinan, komuni pertama dan seterusnya. Di samping melayani umat Jepang saya juga mendapatkan tugas memimpin misa bahasa Inggris di satu gereja lain yaitu Musashigaoka setiap hari Minggu ketiga jam 2 siang yang kebanyakan dihadiri oleh umat Philipina (sekitar 20-30 orang). Tidak hanya tugas pastoral gereja ini saja, bulan lalu pun saya mendapatkan surat tugas dari keuskupan Fukuoka untuk menjadi anggota dari dua komisi kategorial dari keuskupan yaitu Komisi untuk migran dan orang asing dan komisi asosiasi perawat Katolik. Untuk masa depan mungkin akan lebih banyak aktivitas dan agenda buat saya dalam karya dan kegiatan komisi-komisi ini dan juga tugas parokial gereja Tetori ini. Memang kalau dibandingkan dengan kegiatan pastoral di satu gereja di Indonesia, di Jepang tidaklah sesibuk dan sebanyak di Indonesia karena situasi gereja Jepang memang tergolong “mini” atau “bongsai”. Justru di situlah tantangan buat saya sebagai misionaris untuk dengan aktif dan proaktif menggunakan waktu dan kesempatan yang ada sehingga hidup meggereja umat lebih maju. Namun saya juga yakin bukan hanya sekedar aktif saja tapi bagaimana saya tetap bersemangat dan menghidupi apa yang ada di sini. Karena saya berusia muda, 37 tahun, maka banyak umat yang adalah ibu-ibu lansia termasuk pastor paroki selalu berkata bahwa saya masih muda dan masih memiliki harapan panjang dalam hidup ini. Saya merasakan bahwa mereka semua adalah orang tua saya, saudara-saudari saya yang hidup di sekitar saya ini. Benar yang dikatakan Yesus dalam Injil mereka yang bersedia meninggalkan keluarganya dan asalnya demi pelayanan Kerajaan Allah akan mendapatkan berlipat ganda, demikianlah apa yang saya alami saat ini. Di Jepang saya tidak memiliki keluarga karena memang keluarga saya semuanya tinggal di Indonesia namun keluarga Xaverian di Jepang dan juga umat semuanya adalah keluarga saya yang selalu memberikan perhatian dan cinta mereka secara pribadi dan tersendiri buat saya.
Hal yang membuat saya bersemangat adalah bisa bertemu dengan umat setelah selesai misa khususnya di depan gereja memberikan salam dan senyuman sebagai tugas saya. Memang kebanyakan adalah umat Jepang lansia namun juga ada beberapa orang asing seperti Philipina, Argentina, Inggris, Amerika, Mexico, Venezuela, Vietnam, Papu Nugini, Italia, India, Polandia, bahkan Indonesia. Beberapa dari mereka adalah pelajar yang sedang studi lanjut di beberapa universitas di Kumamoto ini. Setidaknya ada 5 umat Indonesia yang juga ikut misa di gereja ini yang sedang studi lanjut di Universitas Kumamoto. Di Universitas Kumamoto sendiri tiap tahun semakin banyak pelajar dari Indonesia yang melanjutkan studi mereka. Mereka kebanyakan berasal dari beberapa universitas negeri di Indonesia yang mendapatkan beasiswa lanjut S-2, S-3 dan program –program studi lainnya. Mungkin ada lebih dari 50 orang mahasiswa Indonesia ada di Kumamoto ini. Maka tidak heran ada satu toko Indonesia yang menjual bahan dan bumbu makanan bukan hanya untuk orang Indonesia tapi juga umat Muslim dari berbagai negara lain. Pemilik toko ini adalah Pak Marlow seorang muslim asal Bogor, Indonesia yang menikah dengan orang Jepang. Yang pasti kerinduan saya akan makanan Indonesia dapat terobati dengan belanja dari toko ini dan masak sendiri masakan Indonesia, bahkan buah durian yang tidak dijual di toko biasa Jepang, akhir-akhir ini saya bisa menikmatinya. Meskipun makanan Jepang selalu menjadi menu harian buat saya tapi sekali-sekali menikmati masakan sendiri ala Indonesia juga memungkinkan di Kumamoto ini.
Satu hal lagi yang membuat kenangan indah buat saya adalah di akhir studi bahasa Jepang di YMCA Kumamoto, saya juga terpilih mengikuti kontes pidato bahasa Jepang yang hasilnya memuaskan buat saya. Televisi lokal Kumamoto pun sempat menayangkannya dalam berita. Event ini genap setahun lalu dan bisa disaksikan di http://www.youtube.com/watch?v=CBb6MnRuVYI Dalam “speech” ini pula saya menyampaikan pesan “Injil” yaitu dengan judul Cinta kasih keluarga atau “Family no Ai” (FAMILY の 愛) , dengan akronim F-A-M-I-L-Y (Father And Mother I Love You) ini mampu membuat pemirsa tergugah karena kebanyakan baru kali pertama mereka mengetahui hal ini. Dalam pidato yang berlangsung tanpa teks karena memang harus dihafal dan dihayati, selama 9 menit, saya menyatakan, “mencintai dan dicintai sebagai manusia memberikan makan yang tertinggi dalam hidup ini”, dalam bahasa Jepangnya “hito wo ai suru koto, hito kara ai sareru koto wa, yo no naka de, ichiban utsukushii koto desu” (人を愛すること、人から愛されることは、世の中で一番美しいことです。) Selain itu ada satu blog saya yang menyimpan banyak kenangan indah dalam bentuk blog, foto dan suara rekaman saat saya mempersembahkan misa bahasa Jepang serta beberapa video lain yang dapat diakses di:
Dalam rangka kanosiasi pendiri Xaverian, Santo Guido Maria Conforti, dari Jepang sekitar 100 lebih umat termasuk 8 Xaverian dan 3 uskup Jepang turut berpartisipasi dalam rombongan ziarah ini. Saya pun termasuk dalam perisitiwa agung penuh syukur ini yang akan berangkat tanggal 21 Oktober dan kembali ke Jepang tanggal 29 Oktober. Dalam hari-hari penuh rahmat di Italia ini nanti yang pasti saya dapat bertemu dan reuni dengan banyak Xaverian dan sahabat yang telah saya kenal selama ini baik di Italia sendiri maupun dari USA. Menurut berita dari SX Flash Xaverian, event kanonisasi ini dapat disaksikan di internet on line dan siaran “live” waktu Italia hari Minggu, 23 Oktober 2011 pukul 10.00 -12.30 pagi di http://www.sat2000.it/diretta.html
Kisah hidup sang pendiri Serikat Misionaris Xaverian pun juga diabadikan dalam bentuk video bahasa Indonesia yang dibuat oleh Pastor Otello Pancani, sx. Dengan ijin beliau saya memposting video-video ini di youtube dan bisa ditonton di http://www.youtube.com/watch?v=0zYwvrFouZU atau
http://www.youtube.com/watch?v=2jtrrLVpD10 dan
http://www.youtube.com/watch?v=jgk8uOq1wno
Selamat mencoba.
Demikianlah kisah pengalaman saya di Jepang yang bisa saya bagikan. Kalau ditanya sampai kapan tinggal dan bermisi di Jepang, saya selalu menjawab bahwa saya siap untuk sampai kapan pun karena biasanya Xaverian yang tinggal di Jepang bisa sampai lanjut usia bahkan sekarang ada 12 Xaverian di Jepang yang berusia di atas 70 tahun. Jadi buat saya tugas di Jepang, di Indonesia atau di negara lain pun, asal masih tetap menjadi anggota dari keluarga Xaverian, saya siap. Dewasa ini juga Xaverian bercorak internasional karena anggotanya ada yang berasal dari negara-negara selain Italia. Maka di awal tahun 2013 nanti akan ditugaskan pula seorang Xaverian berasal dari R.D. Congo, Afrika yang pasti akan memberikan corak internasional untuk Xaverian di Jepang ini karena baru pertama kali Xaverian mengirimkan misionarisnya dari Afrika demikian pula saya adalah Xaverian pertama berasal dari Indonesia. Siapa lagi yang menyusul dari Indonesia bermisi di negeri sakura ini, saya siap menunggu dan membantu…
Untuk melihat sedikit tentang misi Xaverian di Jepang bisa dibuka http://www.rinku.zaq.ne.jp/xaverians/index.htmFriday, April 03, 2009
Pengalaman 8 Bulan di Jepang (3 Agustus 2008 – 3 April 2009)
P. Alexander Denny Wahyudi, S.X.
Bahasa Jepang
Sejak dari Italia saya sudah mencoba mencicipi nuansa bahasa Jepang yang terkenal sulit ini. Dari internet saya mendapatkan banyak pelajaran bahasa Jepang gratis selain beberapa buku yang saya beli saat itu. Perkenalan saya akan pelajaran bahasa Jepang ini menjadi nyata ketika saya menemukan sebuah Injil Lukas berisi beberapa bahasa termasuk bahasa Jepang. Karena saya sudah belajar bagaimana cara membaca tulisan Jepang, yaitu Hiragana dan Katakana maka dengan Injil Lukas yang saya temukan ini membuat saya terpacu untuk membaca dan membaca tulisan Jepang ini. Memang tulisan bahasa Jepang terdiri dari tiga macam tulisan yaitu Kanji, Hiragana dan Katakana. Dalam Injil yang saya temukan itu terdapat tulisan Kanji Jepang yang memiliki furigana alias huruf Hiragana di samping tiap Kanji, maka meskipun saya tidak tahu banyak arti dari kata-kata Jepang itu namun tiap hari saya latihan membaca dalam hati tulisan-tulisan itu. Setiba di Jepang bulan Agustus 2008, saya sangat bersemangat untuk mencoba melihat dan membaca tiap tulisan Hiragana dan sedikit Kanji yang sudah saya pelajari sendiri saat di Italia. Sungguh suatu pengalaman yang sangat menyegarkan di awal hidup saya di Jepang ini. Kendati Nihongo (bahasa Jepang) ini sulit namun bila dipelajari dengan baik dan sistematis maka lambat-laun pasti bisa dikuasai.
Selama 1,5 bulan saya diberikan waktu bebas untuk menikmati banyak tempat indah baik di Osaka dan Pulau Kyushu di mana Xaverian berkarya. Mulai pertengahan September 2008 saya mulai sekolah bahasa Jepang di YWCA (Youth Women Christian Association) Kumamoto. Metode sekolah ini adalah privat dan saya tidak belajar dengan murid lain namun hanya berdua dengan konfrater saya yaitu Felipe Lopez asal Mexico. Tiap minggu 4 kali kami belajar di sekolah yang berjarak sekitar 5 km dari paroki Shimasaki, Kumamoto. Setiap pertemuan hanya dua jam dari jam 10 s.d. 12 siang. Jadi dalam satu minggu hanya 8 jam di sekolah. Buku yang digunakan adalah Minna no Nihongo yang langsung dari awal selalu tertulis dalam tulisan Jepang, Hiragana dan Kanji. Membandingkan pengalaman belajar bahasa di Amerika Serikat dan di Jepang ini maka saya langsung tidak puas dengan sekolah yang saya punya di Jepang ini. Bagaimana tidak? Belajar bahasa Inggris yang sudah saya pelajari sejak di bangku SMP lalu di Amerika saya belajar khusus saja seminggu bisa 25 jam namun belajar bahasa Jepang yang belum banyak saya pelajari cuma 8 jam seminggu. Sungguh suatu kemunduran bagiku. Namun karena saya orang baru dan harus menuruti apa yang sudah diputuskan dan ditentukan oleh pimpinan jadi saya mengikuti apa adanya. Sampai di awal Januari saya mencoba mengunjungi satu sekolah bahasa Jepang lain yang terkenal lebih berbobot yaitu YMCA (Youth Men Christian Association) Kumamoto. Dari kunjungan saya ini membuahkan hasil sampai suatu saat pimpinan saya di Jepang ini memberikan kesempatan buat saya untuk mencoba ikut tes masuk bulan Maret lalu dan diterima dengan baik. Maka, sungguh suatu perjuangan yang membuahkan hasil. Syukur kepada Tuhan bahwa saya diperkenankan masuk sekolah baru ini yang akan mulai 13 April 2009 nanti dengan kontrak selama dua tahun penuh. Kebalikan dengan sekolah sebelumnya, sekolah baru ini lebih menekankan persiapan para muridnya untuk menguasai banyak hal termasuk tes masuk ke perguruan tinggi di Jepang. Aspek budaya dan peraturan yang ketat turut menjadikan YMCA ini suatu pilihan yang sangat tepat buat saya pribadi. Mohon doa dari para konfrater dan saudara sekalian semoga dengan semangat yang sama saya terus belajar dengan baik di sekolah baru ini.
Sejak awal saya tinggal di Jepang saya sudah mencari buku-buku yang bisa dipakai untuk doa dan misa harian dalam bahasa Jepang. Jadi, praktis saat saya pindah di Kumamoto sejak September 2008 saya selalu memimpin misa saat saya giliran dengan bahasa Jepang, dengan tulisan Jepang namun tanpa umat karena dalam misa harian. Sejak awal pula pastor paroki di sini memberikan nasehat agar kami bersabar dengan bahasa Jepang dan diperbolehkan memimpin misa dengan umat setelah setahun di Jepang. Namun secara pribadi saya memulai sendiri belajar membaca tulisan misa bahasa Jepang dan memakaianya setiap hari baik dalam misa maupun doa Rosario. Alhasil, apa yang sudah saya jalankan sejak awal membuat saya makin percaya diri bahwa saya bisa membaca tulisan Jepang dengan baik. Banyak fasilitas untuk belajar bahasa Jepang yang saya miliki seperti komputer Fujitsu yang sejak awal dihadiahkan bagi saya saat saya tiba di Jepang. Komputer dengan sistem Jepang ini membuat saya sangat antusias mengenal tulisan Jepang dan bagaimana mengetik tulisan Jepang. Alkitab seluruhnya dalam bahasa Jepang saya dapatkan baik dari buku Alkitab maupun software di komputer dan juga audio. Sungguh suatu bahan yang sangat mendukung. Sejak awal tahun 2009 saya diberikan buku misa harian lengkap dengan doa-doa misa dan bacaan misa harian dalam tulisan Jepang. Buku ini membuat saya lebih bersemangat untuk mempelajari sendiri bagaimana membaca tulisan Jepang dengan bantuan komputer dan juga kamus elektronik yang juga saya beli sejak awal. Tidak puas dengan membaca misa dalam tuisan Jepang yang ada furigananya, saya mulai menghafalkan dan mendaftar semua Kanji dalam misa dan akhirnya saya berani menggunakan buku misa kecil tanpa furigana, jadi berupa Kanji Jepang yang semakin saya kenal karena tiap hari saya baca. Setelah mengenal bagaimana sistem penggunaan buku misa saya memberanikan diri membeli satu buku besar berisi doa dan bacaan misa lengkap untuk sepanjang tahun yang mencakup tahun A, B dan C yang berjudul “Mainichi no Misa”. Setelah belajar bahasa Jepang dari sekolah, maka saya memberanikan diri untuk mendekati umat tiap hari Minggu dan praktek bicara dengan mereka setelah selesai misa. Sungguh suatu perjuangan yang harus terus diasah karena apa yang saya pelajari dari sekolah berbeda dengan kosa kata harian dalam percakapan. Ke mana pun saya pergi saya sudah berani bertanya dan berjalan sendiri dengan kemampuan bahasa Jepang apa adanya. Di bulan Januari saya berani pergi ke Osaka sendiri dengan naik bis dari Kumamoto. Saya membawa sepeda lipat saya dan berani mencari alamat teman saya di Osaka dengan bertanya-tanya kepada banyak orang di sepanjang jalan saat saya tersesat. Suatu kepuasan tersendiri ketika saya akhirnya bisa menemukan alamat teman saya itu. Fasilitas lain yang saya gunakan untuk belajar bahasa adalah internet terutama Facebook yang dapat digunakan untuk merekam video langsung dari webcam dan laptop. Saya merekam banyak video yang isinya pelajaran bahasa Jepang atau doa Rosario dan misa serta bacaan Injil Mingguan dalam bahasa Jepang dan bahasa-bahasa lain.
Selain pelajaran bahasa Jepang di sekolah resmi di atas saya juga menemukan melalui Internet satu tempat khusus yaitu Kumamoto International Center untuk belajar bahasa Jepang gratis. Sejak akhir Januari saya datang ke tempat studi ini dan ada beberapa guru bahasa Jepang yang dengan sukarela mengajar secara privat atau pun berkelompok. Tiap Rabu dan Minggu saya sudah beberapa kali mengikutinya dan bertemu dengan banyak teman dari negara lain seperti Cina, Korea, Philipina dan Indonesia tentunya. Tiap pertemuan berlangsung selama dua jam dan boleh belajar 4 jam dalam sehari dalam jam yang berbeda. Kalau dari awal saya tahu akan hal ini saya pasti memanfaatkannya dengan baik. Namun karena sudah di akhir Januari saya baru tergugah untuk mengikutinya berkat pencarian sendiri maka sudah agak terlambat. Lagi pula sekolah baru saya nanti sudah banyak menuntut perhatian dan waktu yaitu di YMCA Kumamoto yang selalu memberikan ujian harian dan ujian kenaikan tingkat. Maka waktu dan perhatian saya akan tersita untuk studi ini dan barangkali tidak lagi datang ke sekolah bahasa Jepang gratis di Kumamoto International Center itu.
Selain itu saya juga mendaftar di YMCA Kamitori di Kumamoto juga untuk mendapatkan satu partner orang Jepang yang memberikan kesempatan face to face bicara dan bercakap dalam bahasa Jepang. Kesempatan ini gratis dan saya tinggal menunggu kabar dari pihak YMCA Kamitori setelah mereka mendapatkan satu volunteer mereka akan menghubungi saya dan tiap minggu dapat bertemu sekali selam satu jam. Volunter yang ada biasanya adalah calon guru bahasa Jepang. Saya masih terus berharap mendapatkan kabar segera dari yang satu ini.
Intinya belajar bahasa Jepang memang sangat menyenangkan kalau kita tahu bagaimana metode, cara, kesempatan dan link yang membuat kita terus terpacu untuk ingin tahu. Dan ini semua sudah saya coba sedemikian rupa sehingga akhirnya saya mendapatkan sekolah bahasa Jepang yang sungguh sangat intensif yaitu YMCA Kumamoto. Saya berharap dengan sekolah baru ini nanti saya dapat menguasai bahasa Jepang dengan lebih lengkap bukan hanya tata bahasa saja tapi juga gaya hidup dan budaya Jepang serta mengenal banyak teman dari berbagai bangsa terutama dari Cina memberikan kesempatan emas bagiku untuk memberikan kesaksian nyata secara Kristiani dan juga sebagai orang Indonesia yang memiliki darah Cina juga namun sama sekali tidak berbahasa Cina.
Hidup Komunitas
Xaverian yang berkarya di Jepang saat ini ada 34 orang yaitu 2 dari Spanyol, 1 dari Brasil, satu dari Mexico dan saya sendiri dari Indonesia. Kami yang sedang belajar bahasa Jepang ini tinggal di satu paroki kecil di Shimasaki, Kumamoto dengan pastor kepala paroki, Danilo Marchetto, S.X. (56 tahun) yang sudah berada di Jepang selama 20 tahun dalam dua periode berbeda. Terkenal di Jepang bahwa tiap Xaverian biasanya hidup dan berkarya sendiri di paroki-paroki kecil. Dan hal ini benar adanya namun tiap bulan ada pertemuan rutin di antara Xaverian di dua zona berbeda yaitu Osaka di sebelah Utara di rumah regional Xaverian di Izumi Sano, Osaka dan kami semua yang berada di Selatan yaitu Pulau Kyushu termasuk Kumamoto berkumpul di rumah Xaverian di Ehira, Miyazaki.
Gaya hidup di Jepang sungguh sangat nyaman dalam fasilitas dan materi namun gaya kemiskinan tetap menjadi hal yang patut diperjuangkan karena banyak tawaran teknologi dan banyak hal lain yang bisa didapat dengan mudah. Bagaimana tidak? Sejak awal tiap anggota Xaverian mendapatkan tiap bulannya stipendium dari pihak Xaverian di Jepang melalui kantor pos yaitu tabungan atas nama saya pribadi. Sampai saat ini apa yang saya terima lebih dari cukup dari yang saya butuhkan. Yang pasti uang ini dipakai untuk biaya hidup tiap bulan. Dari awal pula saya sudah diminta untuk mencari SIM mobil namun saya belum merasa fasilitas mobil ini saya butuhkan di samping saya harus membutuhkan banyak latihan dalam mengendarai mobil, saya tetap semangat menggunakan sepeda sebagai transportasi harian saya terutama ke sekolah yaitu 20 menit sekali jalan. Lagi pula pihak sekolah bahasa Jepang saya yang baru yaitu YMCA, melarang muridnya mengendarai mobil pribadi ke sekolah maka saya sangat puas dengan bersepeda yang menjadi kebiasaan sejak di Indonesia.
Sejak 1,5 bulan lalu saya mengenal beberapa teman Indonesia di Kumamoto ini. Mereka adalah para mahasiswa studi lanjut untuk dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mereka belajar di Universitas Kumamoto dalam program doktoral, master dan juga post-doktoral. Mereka biasa tinggal bersama keluarga mereka di Jepang yaitu anak dan isteri mereka. Ada sekitar 15 mahasiswa Indonesia di Kumamoto ini. Dari perkenalan dengan teman-teman Indonesia ini saya akhirnya mengetahui toko Indonesia yang menjual bahan-bahan makanan dari Indonesia. Maka saya membeli indomie, bumbu-bumbu instant yang sangat berguna untuk masak makanan Indonesia di komunitas saya sekali-sekali. Pernah sekali saya masak nasi kunig, rendang padang, krupuk dan rempeyek serta kacang ijo. Dengan para mahasiswa Indonesia ini pula saya diajak berpartisipasi dalam menari poco-poco untuk ditampilkan di Kotsu Center, dekat terminal bis Kumamoto. Hanya berlatih dua kali hari Sabtu akhirnya saya pun bisa menari poco-poco. Satu pengalaman pertama dalam hidupku bahwa aku bisa menari poco-poco, biasanya selalu saya menghindar kalau ada tarian poco-poco karena memang tidak hafal.
Pengalaman Pastoral
Saya dipercaya untuk memimpin misa bahasa Inggris tiap minggu ketiga di gereja Musashigaoka di mana berkarya Pastor Renato Filippini, S.X. Yang hadir dalam misa bahasa Inggris kebanyakan adalah para ibu muda Filipina yang menetap di Jepang. Mereka datang bersama anak-anak mereka dan mayoritas suami mereka adalah orang Jepang yang bukan Katolik. Biasanya sekitar 40-50 an orang hadir dalam misa ini. Meskipun saya sudah bisa membaca misa dalam bahasa Jepang dengan tulisan Jepang namun saya belum diberi ijin oleh pastor paroki di sini. Namun sejak awal masa Pra-paskah 2009 ini saya diberi ijin untuk memimpin doa jalan salib di paroki yaitu di kapel kecil gereja Shimasaki ini dalam bahasa Jepang. Namun karena umat sibuk dan tidak banyak berdevosi dengan doa jalan salib maka yang datang maksimal 5 orang dan pertama kali tidak ada yang datang jadi saya sendiri yang mendoakan doa ini sambil berlatih membaca tulisan Jepang. Inilah kenyataan yang sangat berbeda dengan pengalaman doa bersama saat saya ada di Indonesia. Maka saya tidak heran lagi kalau yang datang hari-hari terakhir ini hanya satu ibu bernama Nunobe-San (74 tahun) dan saya beruntung sekali karena ibu ini dengan baik hati mengajak saya bercakap-cakap dalam bahasa Jepang sebelum dan sesudah doa jalan salib di kapel kecil itu.
Tiap Minggu di dalam gedung gereja Shimasaki ini hanya dirayakan misa sekali yaitu jam 9 pagi ang biasa dihadiri sekitar 80 umat dan mayoritas adalah ibu-ibu lansia. Sangat jarang ada anak muda dan anak-anak kecil pun sedikit jumlahnya. Di dekat parok ini ada satu susteran FMM yang memiliki sekitar 50 suster, semuanya Jepang. Mereka juga berusia lanjut bahkan ada yang berusia 103 atau sekitar 100 tahun ada 3 orang. Tiap hari pastor kepala paroki dan satu pastor Xaverian lain, kakak kelas saya dari Brasil yang berada di tahun kedua dalam belajar bahasa Jepang secara bergiliran memimpin misa harian di susteran FMM itu. Tiap Selasa saya mendampingi pastor kepala paroki untuk misa harian itu namun saya masih menjadi konselebran yang “membisu” karena belum diperkenankan untuk membaca bagian misa. Semuanya saya jalankan dengan penuh semangat dan ketaatan apa pun yang diminta oleh pimpinan.
Beberapa hari lalu saya ikut berpartisipasi dalam kegiatan anak muda di paroki ini yaitu berjalan kaki dari gereja selama 15 menit ke satu tempat lebih tinggi yaitu dekat kuburan Katolik di Kumamoto untuk merayakan misa. Mereka adalah anak-anak SMP dan SMA berjumlah 5 orang. Sepanjang jalan saya memberanikan diri untuk bercakap-cakap dengan mereka dalam bahasa Jepang. Sungguh suatu pengalaman yang sangat indah bisa bicara dengan anak muda Jepang karena selama ini saya sudah mencoba berbicara dengan umat ibu-ibu lansia setelah misa Minggu usai. Saya tidak malu dan segan untuk mengeluarkan perbendaharaan kata dan kalimat yang sudah saya pelajari dari sekolah atau saya pelajari sendiri. Kalau saya tidak tahu saya bertanya kepada mereka dan mereka pun tidak segan-segan mengoreksi saya.
Pengalaman yang indah lain adalah saya ditawari ikut berpartisipasi dalam lomba atau rekreasi sepeda di Beppu di awal Mei 2009 nanti oleh satu pastor Xaverian lain yaitu P. Fedele Ceruti, S.X. Seorang Jepang, teman pastor ini yang mengajak saya untuk turut lomba naik sepeda ini. Dalam dua bulan terakhir ini saya bicara lewat telepon dan juga email dengan Giuliano-San (Katolik) ini dan dia yang sangat baik sesuai kesan Pastor Ceruti dan saya sendiri meskipun belum berjumpa sendiri, telah menyiapkan sepeda dia untuk saya pakai dalam lomba funbike ini dan juga hotel yang sudah dia pesan baik di Beppu maupun di Oita. Saya berencana pergi sendiri ke Beppu dari Kumamoto hari Sabtu, 2 Mei 2009 dengan membawa sepeda lipat saya yaitu naik bis sekitar 4,5 jam.
Saturday, December 27, 2008
Natal 2008 di Kumamoto, Jepang Selatan
Oleh Alexander Denny Wahyudi, s.x.
Berikut ini sedikit laporan dan sharing pengalaman saya sebagai misionaris yang baru saja tinggal di Jepang selama hampir lima bulan ini. Saya menceritakan apa yang terjadi dalam suasana natal di ketiga paroki di Kumamoto yang sempat saya ikuti dalam perayaan natal tahun ini. Ketiga paroki itu adalah Shimasaki di mana saya tinggal, lalu Gereja Tettori di pusat Kota Kumamoto dan Gereja Musashigaoka yang terletak di pinggiran kota.
Suasana Natal di tahun 2008 di beberapa paroki di sekitar Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang Selatan sungguh memberikan kesan tersendiri bagi saya pribadi yang baru memulai hidup di tanah misi sebagai seorang misionaris. Tidak seperti di negeri kita Indonesia tercinta terutama di kota-kota besar seperti Jakarta di mana perayaan Natal selalu dihadiri banyak umat Katolik sampai di luar gedung gereja, di Jepang setidaknya dalam pengalaman pertama Natal di kota kecil seperti Kumamoto ini tidak banyak umat yang berlimpah memenuhi gereja. Memang jumlah umat yang datang saat misa Natal di gereja Shimasaki, Kumamoto tempat saya tinggal sekarang ini lebih banyak dibandingkan misa Minggu biasa. Bahkan mereka yang datang ke misa malam natal tunggal pukul 19.00 ini banyak yang bukan Katolik. Misa tunggal hari Minggu biasa tiap jam 9 pagi biasanya dihadiri sekitar 80 umat dan mayoritas ibu-ibu senior alias lansia namun sekali setahun gedung gereja yang berbentuk mirip UFO dari luar ini (berbentuk bundar) saat natal dipenuhi oleh banyak pendatang baru. Bahkan tim kor yang menyumbangkan lagu dengan gaya professional mereka yang terdiri dari bapak-bapak senior itu semuanya bukan Katolik namun mereka dengan semangat menyanyikan lagu-lagu Katolik baik dalam bahasa Latin maupun bahasa Jepang dengan merdunya. Mereka berjumlah sekitar 20 orang.
Misa malam natal ini diawali dengan perarakan oleh pastor paroki, Danilo Marchetto,sx yang sudah menjadi misionaris di Jepang selama 20 tahun bersama beberapa anak dengan berpakaian ala zaman Yesus yang memberikan gambaran sebagai Maria, Yosef dan beberapa gembala. Dalam perarakan di awal misa ini mereka mempersembahkan bayi Yesus di kandang gua natal yang berada di depan samping kanan altar. Lalu dilanjutkan dengan perayaan misa natal yang berlangsung selama 1,5 jam. Umat yang hadir berjumlah sekitar 300 orang. Dalam doa umat anak-anak yang turut dalam perarakan ini membacakan doa satu-persatu dari tempat duduk mereka. Secara umum perarakan natal ini tidak berbeda dengan misa natal lain di Indonesia. Hal yang membedakan adalah bahasa yang baru untuk saya yaitu bahasa Jepang. Dalam misa minggu biasa yang memberikan komuni biasanya hanya satu pastor atau dua pastor namun dalam misa natal ini kami bertiga turut bertugas membagikan komuni. Anak-anak kecil dan orang dewasa yang belum dibaptis pun mereka turut maju ke depan untuk menerima berkat dari pastor termasuk para anggota kor yang berpakaian jas hitam.
Setelah misa selesai, perayaan kebersamaan dilanjutkan dengan makan bersama di aula paroki dekat gereja yang diawali dengan “Kanpai” yaitu cheers dengan mengangkat gelas minuman masing-masing yang menjadi tanda selamat natal bagi semuanya. “Kurisumasu omedetou gozaimasu” (selamat natal) yang diawali oleh Matsumoto-San sebagai tokoh Katolik di paroki yang sebelumnya digembalakan oleh Misionaris Columban asal Irlandia dan sekarang dilayani oleh Misionaris Xaverian. Selanjutnya santap malam dengan model prasmanan atau standing party dengan menu sushi bar yang dipersiapkan oleh ibu-ibu paroki yang bekerja dengan penuh dedikasi. Karena banyak umat yang hadir dalam misa dan perayaan ini baru pertama kali berjumpa dengan saya maka beberapa dari mereka banyak menyapa dan bertanya kepada saya dengan keterbatasan bahasa Jepang yang sudah saya pelajari. Meskipun bahasa masih menjadi penghalang utama bagi saya untuk berkomunikasi dengan umat namun saya merasakan keterbukaan dan keramahtamahan umat dalam menerima kami sebagai gembala. Beberapa anak yang turut ambil bagian dalam perayaan bersama ini turut bergembira bersama saya dengan foto bersama dan sesekali saya memberikan salam dan bertanya sedikit seputar nama dan sekolah mereka. Setelah makan malam bersama ini selesai maka perayaan natal pun selesai, satu per satu umat kembali ke rumah mereka masing-masing. Di hari Natal 25 Desember di gedung gereja Shimasaki, Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus ini tidak lagi dirayakan misa namun misa pukul 7 pagi dirayakan di kapel biara suster FMM yang memiliki sekitar 50 suster lansia yang tidak dapat datang ke gereja malam natal sebelumnya.
Di Kota Kumamoto ini ada satu paroki lain yang lebih besar dan terletak di tengah kota di mana banyak dijumpai pusat bisnis dan hotel. Gereja ini jauh lebih tua dibandingkan gereja di Shimasaki yang berjarak sekitar 3 kilometer. Gereja Tettori yang berusia lebih dari 100 tahun dan digembalakan oleh seorang imam diosesan Keuskupan Fukuoka ini merayakan misa malam natal dua kali yaitu jam 19.00 dan 22.00. Lalu, di hari Natal tanggal 25 Desember pukul 10.00 dirayakan misa natal di mana gedung gereja nampak penuh dengan misa pembaptisan seorang ibu lansia dan seorang bayi. Misa dirayakan dalam bahasa Jepang dan nampak banyak ibu-ibu lansia dengan kerudung putih saat misa sebagai tradisi gereja Katolik Jepang. Satu hal yang menarik dalam misa di Tettori ini adalah ada satu suster yang menjadi juru penerjemah dalam bahasa tubuh bagi umat tuna rungu dan tuna wicara. Sepanjang misa berlangsung bahkan dalam saat menyanyikan lagu-lagu misa pun suster ini terus berbicara dalam bahasa tubuhnya sebagai pelayanan bagi saudara-saudari yang tidak mampun mendengar dengan telinga namun mampu melihat dan mendengar dengan suara hati mereka.
Sekitar delapan kilometer dari Gereja Tettori ada lagi satu gereja Katolik yaitu di daerah bernama Musashigaoka di mana Pastor Renato Filippini,s.x. (39 tahun) asal Italia melayani sebagai gembala dalam tiga tahun terakhir ini. Gereja ini lebih mungil dibandingkan dua gereja di atas namun umat Katolik Jepang yang ada banyak keluarga muda. Di gedung gereja inilah saya tiap bulan melayani misa berbahasa Inggris yang kebanyakan diikuti oleh ibu-ibu muda asal Philipina yang menikah dengan orang Jepang dan biasanya suami mereka bukanlah Katolik. Dalam misa bahasa Inggris (selalu dalam minggu ketiga) bulan Desember ini dihadiri sekitar 50 umat termasuk anak-anak mereka. Setelah misa mereka merayakan natal bersama dengan permainan dan makan siang bersama yang berlangsung pula di dalam gedung gereja ini dengan terlebih dahulu ditutup dengan pintu pembatas antar altar dan gedung gereja yang berkapasitas sekitar 120 umat ini. Lain dengan dua gereja di atas yaitu Shimasaki dan Tettori, di gereja Musashigaoka ini umat yang masuk dalam gereja harus menanggalkan alas kaki dan memakai sandal yang tersedia di depan gereja. Hal ini menjadi tradisi Jepang yang masih dipelihara di gereja ini. Umat Philipina ini diundang pula untuk merayakan misa natal bersama umat Jepang lainnya di baik misa malam natal maupun di tanggal 25 Desember dengan tujuan agar persatuan antar mereka sebagai umat Katolik terwujud kendati berbeda budaya dan asal-usul. Demikian ditekankan Pastor Renato,s.x. sebagai kepala paroki Musashigaoka. Bahkan di bulan Januari nanti umat Philipina diundang untuk datang ke misa bersama suami mereka yang tidak beragama Katolik sebagai perkenalan awal bagi orang Jepang yang bukan Katolik itu, bukan untuk mengajak mereka menjadi Katolik namun turut merangkul mereka sebagai bagian dari perkumpulan dan kegiatan-kegiatan mereka.
Satu hal yang disayangkan tidak terjadi adalah saat misa malam natal di Shimasaki yang dihadiri sekitar 300 umat dengan konselebrasi 4 imam, pastor kepala paroki, Danilo Marchetto, s.x. tidak memperkenalkan kepada umat tentang siapa kami bertiga imam muda yang baru saja tinggal di Jepang selama hampir 5 bulan dan setahun lebih. Kami bertiga sedang belajar bahasa Jepang di YWCA Kumamoto. Kami adalah P. Michel da Rocha, sx (31 tahun) asal Brasil, P. Felipe Lopez Orozco,sx (36 tahun) dari Mexico dan saya sendiri, P. Denny Wahyudi,sx asal Indonesia. Namun demikian saat setelah misa kami memiliki kesempatan untuk beramah-tamah dengan umat dengan modal bahasa Jepang yang sudah kami dapat dari sekolah.
Dalam pembicaraan dengan beberapa pastor Xaverian yang berkarya di daerah Kyushu ini, saya mendapatkan kesan bahwa kepenuhan dan target karya kerasulan mereka tidak berdasarkan pada kuantitas umat yang datang ke gereja namun lebih pada kualitas. Memang sulit bermisi di Jepang kalau mengandalkan jumlah umat dan baptisan karena banyak gereja yang berukuran mini dalam kuantitas seperti satu lingkungan kecil di satu paroki besar di Jakarta misalnya. Bahkan 10-50 orang saja saat misa hari Minggu. Itulah tantangan hidup mengereja di Jepang ini yang memiliki jumlah umat Katolik sekitar 450 ribu orang Jepang dan setengah juta Katolik orang asing yang berasal dari Brasil, Mexico, Peru, Philipina dan juga Indonesia di kota-kota besar seperti Osaka, Tokyo dan Nagoya.
Wednesday, December 19, 2007
Riwayat Hidup dan Panggilan Romo Denny Wahyudi, SX
ROMO ALEXANDER DENNY WAHYUDI, SX
“Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan,
maka terlaksanalah segala rencanamu” (Amsal 16:3)
- Lahir di Madiun, 24 November 1974 dari pasangan Bapak Johnny Indrata dan (Almarhumah) Ana Maria Indrawati di Rumah Sakit Katolik Panti Bagija, Madiun yang dikelola oleh para Suster Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus (M.C.). Denny adalah anak ketiga dari lima bersaudara.
- 1979-1981: pernah bersekolah di TK Kristen Widya Wacana Solo, TK Katolik Marsudirini Solo, dan lulus di TK Bernardus (ditangani oleh para suster Ursulin, OSU) Madiun, Jawa Timur.
- 1981 – 1987: SD Katolik Santo Yusuf (dijalankan oleh para bruder Santo Aloysius, CSA) Madiun
- 1987 – 1990: SMP Negeri 2 Madiun
- 1988 – 1990: menjalani masa katekumenat di Novisiat Suster Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus (M.C.), Jalan Mundu, Madiun, Jawa Timur.
- 24 Desember 1990: dibaptis Katolik di Gereja Santo Cornelius, Madiun oleh Pastor Sebastiano Fornasari, C.M.
- 1990 – 1993: SMA Negeri 2 Madiun
- Agustus 1993 – Desember 1993: bekerja di Rapico Foto, Menteng dan Adorama Foto, Jalan Kemang Raya, Jakarta
- Januari 1994 – Mei 1996: bekerja di P.T. Surya Pertiwi (TOTO), Jalan Pinangsia dan Jalan Tomang Raya, Jakarta
- Agustus 1996 – Mei 1997: Pra-Novisiat Serikat Misionaris Xaverian di Bintaro, Jakarta. Menjalankan kerasulan Sekolah Bina Iman Anak-anak di Paroki Keluarga Kudus, Pasar Minggu, Jakarta.
- Juli 1997 – Juni 1998: Novisiat Xaverian di Bintaro, Jakarta. Menjalankan kerasulan di SSP Paroki Santo Thomas Rasul, Bojong Indah dan Sekolah Bina Iman Anak-anak di Paroki Keluarga Kudus, Pasar Minggu, Jakarta.
- 21 Juni 1998: mengikrarkan kaul pertama
- 1998 – 2002: studi filsafat di STF Driyarkara, Jakarta. Menjalankan kerasulan mendampingi katekumen Universitas Bina Nusantara Jakarta, katekumen di Paroki Santo Petrus Paulus Mangga Besar Jakarta, Dialog Antar Agama, dan mengajar agama di SMP Negeri 4 Jakarta, SMA Negeri 2 Jakarta dan SMA Negeri 5 Jakarta.
- November 2002 – Agustus 2003: belajar bahasa Inggris di ESL Program Sacred Heart School of Theology di Hales Corners, Wisconsin, Amerika Serikat.
- September 2003 – Mei 2007: studi teologi program Master of Divinity (M.Div) dan Master of Arts (MA bidang spiritualitas) di Catholic Theological Union (CTU) Chicago, Amerika Serikat.
- 6 Mei 2006: mengikrarkan kaul-kaul kekal di Komunitas Xaverian, Franklin, Wisconsin, Amerika Serikat.
- 14 Mei 2006: ditahbiskan diakon oleh Bishop John R. Gorman di Gereja Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, Chinatown, Chicago, Amerika Serikat.
- 4 September 2006 – 4 Juni 2007: menjalankan pastoral diakonat di Gereja Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, Chinatown, Chicago, Amerika Serikat.
- 15 Agustus 2007: ditahbiskan imam di Gereja Santo Mateus, Bintaro, Jakarta oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J.
Sungguh besar kasih Allah yang telah memanggil saya pada panggilan misioner di Serikat Misionaris Xaverian. Betapa tidak, saya yang baru saja dibaptis di kelas satu SMA, secara cepat merasakan getar-getar panggilan dalam hati setelah aktif di kegiatan doa-doa lingkungan, Mudika dan ziarah paroki. Keinginan tahuan yang besar akan panggilan menjadi imam ini terjawab dengan membaca majalah Katolik HIDUP saat doa rosario di ketua lingkungan Kejuron, Bapak Budiman waktu itu. Di situlah saya menemukan Serikat Misionaris Xaverian dan langsung saya menulis surat ke Yogya, yaitu promotor panggilan bernama Pastor Silvano Laurenzi, S.X. Korespondensi yang teratur menjawab segala pertanyaan saya tentang seluk-beluk menjadi seorang imam Xaverian. Saya merasakan kehangatan yang mendalam saat bertemu pastor yang penuh semangat ini pertama kali di Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Kidul Loji, Yogyakarta, saat nenek saya dirawat di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Sejak saat itu saya memproyeksikan diri saya dengan kehidupan seorang frater Xaverian yang sering kubaca di Warta Xaverian. Setiap kali menerima Warta ini saya baca berulang kali serasa saya menjadi bagiannya. Tidak heran saya mengenal banyak nama frater dan mantan frater Xaverian yang menjalani pendidikan di Jakarta ini meskipun saya tidak pernah bertemu mereka. Saya pun dengan tekun mengikuti perkembangan mereka hingga suatu saat saya dapat menghadiri satu buah sulung tahbisan Xaverian pertama Indonesia di Gereja Mlati, Yogyakarta, yaitu Romo Albertus Priyono, S.X. di bulan Oktober 1995. Saat itu saya sengaja cuti dari kantor untuk menghadirinya. Memang saya selulus SMA tidak langsung masuk Xaverian karena keluarga saya masih belum setuju, maka saya bekerja dulu di Jakarta selama tiga tahun. Pengalaman bekerja di Jakarta ini memberikan waktu cukup bagi saya untuk berpikir dan menimbang yang akhirnya memutuskan: YA, saya bersedia masuk dan ikut tes. Saya mengikuti tes psikologi, tes masuk STF Driyarkara dan wawancara di bulan Februari 1996 di Bintaro, setelah beberapa kali bimbingan pribadi dengan Pastor Nico Macina, S.X. di Wisma Xaverian, Cempaka Putih. Saya diperkenankan langsung melamar ke Xaverian tanpa harus masuk KPA di seminari menengah. Rupanya saya sungguh didukung oleh Pastor Laurenzi. Akhirnya saya diterima masuk Pra-Novisiat di Bintaro yang sudah selama ini saya sering memantau tempat dan pembangunan gedung barunya. Saat itu kami berjumlah 15 orang dan saya adalah satu-satunya yang bukan berasal dari seminari. Sering kali teman-teman bercanda bahwa saya berasal dari “Seminari TOTO” karena memang saya bekerja di perusahaan ini selama 2,5 tahun. Hari demi hari saya jalani dengan penuh antusias, jatuh-bangun, dengan suka-duka yang memberikan makna mendalam dalam hidup saya pribadi.
Keluarga saya yang dulunya melarang saya untuk menjadi imam, sedikit demi sedikit mereka menerima dan sangat bangga. Saya yakin dukungan dan tantangan dari semua pihak memberikan dinamika tersendiri dalam menjalani hidup panggilan mulia ini. Saya memiliki keyakinan yang besar dan sekaligus berpasrah kepada kehendak Allah atas masa depan panggilan ini. Saya menyadari panggilan ini tidak mudah, maka motto awal saya ketika masuk Xaverian adalah: “Barangsiapa ingin mengikuti Aku, ia harus menyangkal diri, memanggul salib setiap hari dan mengikuti Aku” (Lukas 9:23). Selain salib dan penyangkalan diri, banyak rahmat yang begitu besar yang boleh saya terima dengan syukur. Rahmat yang bagi saya teramat besar, tidak terpikirkan sebelumnya. Contohnya: kesempatan emas yang diberikan Serikat Xaverian bagi saya untuk menjalani studi teologi di Chicago, Amerika Serikat senantiasa mengingatkan saya untuk terus bersyukur dan bersemangat dalam jalan ini dengan penuh kesetiaan seumur hidup. Saya berpikir bahwa saya pribadi tidak akan dapat dan mampu pergi ke luar negeri apalagi studi tinggi apabila saya tidak menjadi anggota Serikat ini. Kendati banyak tantangan yang saya hadapi baik di Indonesia maupun di Amerika Serikat namun semuanya itu indah pada akhirnya, karena “segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberikan kekuatan padaku” (Filipi 4:13).
Akhirnya saya mampu berkata bahwa panggilan menjadi imam misionaris Xaverian sungguh jodoh saya karena dalam waktu 11 tahun ini banyak kejadian yang tidak terduga oleh pemikiran manusia belaka menjadi kenyataan. Ada yang masuk dan ada banyak pula yang keluar. Saya patut bersyukur dan berbangga hati karena angkatan saya yang berjumlah 15 di awal masa pembinaan, sekarang masih berjumlah lima. Tiga diantarnya ditahbiskan imam bersama hari ini yaitu Utomo, Dharmawan dan saya sendiri. Dua lainnya yaitu Marsel dari Toraja yang sedang belajar teologi di Manila akan menyusul di tahun depan dan Made dari Bali yang menjalankan studi teologi di Mexico City akan mencapai tahap ini dua tahun ke depan. Saya persembahkan doa-doa dan rasa syukur saya untuk mereka berdua dan semua adik-adik kelas saya yang sedang menjalani proses panggilan ini. Tak lupa saya berdoa bagi semua rekan saya yang telah menjalani hidup di luar sebagai awam. Semoga kalian semua tetap menjadi “Xaverian” dalam hati dan realita hidup sehari-hari, menjadi garam dan terang bagi sesama di sekitar kita. Saya turut berterima kasih kepada Serikat Xaverian, para pembina, karyawan-karyawati di rumah-rumah Xaverian, guru-guru dan dosen-dosen kami, keluarga, sahabat, segenap panitia tahbisan imamat ini yang telah bekerja keras, para imam yang hadir saat ini dan umat sekalian, Bapak Uskup Agung Jakarta dan semua yang telah memberikan warna tersendiri dalam hidup dan kehidupan saya. Cinta dan kasih Anda sekalian memberikan makna tertinggi dalam hidup saya yang patut terus saya syukuri dan kenangkan.
Kini saatnya saya mohon doa restu Anda sekalian untuk tahap kehidupan saya selanjutnya khususnya untuk terus setia seumur hidup menjalani misi mulia sebagai imam misionaris di Keluarga Xaverian tercinta ini, menjalankan misi saya nanti di Jepang sebagai penugasan pertama saya sebagai imam, yang didahului dengan belajar bahasa Italia di Ancona, Italia selama 6 bulan. Untuk ujud ini saya berani berseru:
“Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan,
maka terlaksanalah segala rencanamu”
(Amsal 16:3)
Friday, May 04, 2007
A Good News on Friday, May 04, 2007
A Good News of Friday, May 04, 2007 for Denny
Today is the first Friday of May in the year of 2007. After working on tiles at the basement of Saint Therese Church, helping Ben and having lunch, noodle, cooked by Father Michael, I opened my hotmail email. Finally, what I have been waiting for over the last days arrived to me. Father Ivan Marchesin, the provincial of the Xaverians in the
Here is the letter of my provincial and the General Direction:
From : Ivan Marchesin ivanmarchesin@hotmail.com
Sent : Friday, May 4, 2007 2:04 PM
To : acdw74@hotmail.com
Dear Denny,
Greetings. I am sending you this letter of confirmation by the General Direction for your Ordination to the Priesthood and your assignment to
Congratulations.
I am proud of you and am very happy for this great grace God is giving you. God is calling you not only to act in the name of Jesus. There is more. God is asking you be Jesus, visible, loving, acting, compassionate, beautiful in everything you do and wherever you go. As Jesus was always the visible presence of the Father, so are you to be always the visible presence of Jesus: Jesus who is ever giving his life for the life of the world.
Search all the heavens and the earth, and you will never find anything more beautiful and demanding than you call and vocation. Be happy. Be grateful.
I assure you my prayer and my unity. We share the same call and the same vocation. Together we thank God and Mary for the gift of our Priesthood and of our missionary call.
Gratefully and most respectfully, Yours,
Fr. Ivan Marchesin, s,x,
Feast of the Apostles Philip and James
Deacon Denny Wahyudi Alexander
Xaverian International Theology Community
Re: Confirmation of Admission to the Priesthood and Assignment
Dear Denny,
during the General Council of 2 May, the Superior General confirmed your Admission to the Priesthood and, at the same time, assigned you to the Region of Japan.
Together with our congratulations, we assure you of our prayers for your priestly ministry which, from now on, will mark your life at the service of the Church and the
During this period you should establish and maintain contact with the Regional Superior of Japan to begin the necessary application process for an entry visa; it should be possible to do this through the Indonesian Embassy in
Fr.Luigi Menegazzo
Fr. I. Marchesin, Regional
Fr. PG. Manni, Regional
Fr. V. Baravalle, Regional
Fr. C. Pozzobon, Regional
Wednesday, March 01, 2006
Kabar Gembira dari DG SX di Roma buatku
Hari ini hari Selasa, 21 Februari 2006. Di pagi hari jam 10.10 saat aku membaca bacaan untuk kuliah hari Kamis, aku menerima telepon dari Pastor Provinsial SX di USA, Father Ivan Marchesin. Beliau memberitahukan secara resmi padaku bahwa permohonan kaul kekal dan diakonatku telah dikabulkan oleh Direksi General SX di Roma....sungguh gembira rasanya dan plong mendengarkan kabar ini. Dia forward e-mail dari wakil superior general sx, Father Luigi Menegazzo lalu aku abadikan di blog ini. Berita gembira yang sama di bawah ini bahwa aku akan diutus ke Jepang sebagai misionaris setelah aku ditahbiskan jadi pastor mungkin pertengahan tahun 2007 di Indonesia. Berkat dan rahmat Tuhan begitu besar, aku hanya bisa bersujud di kamarku dan mengucap syukur atas berita gembira ini seraya memanjatkan doa dan pujianku pada Dia yang telah memanggilku. Dengan "kidung Magnificat" aku bersujud di hadirat Yang Maha Kasih. Ini surat resmi dari Roma yang menjadi kenangan tersendiri bagiku....Salam dan doaku untuk negeri Sakura yang menjadi impianku....Sedianya aku akan kaul kekal di komunitas SX di Franklin-Wisconsin pada 6 Mei sore 2006 lalu tahbisan diakonat di Gereja St. Therese Chinatown Chicago tanggal 14 Mei 2006. Kutunggu hari-hari penuh harapan di bulan Mei dari kaul kekal, tahbisan diakonat, wisuda M.Div dari CTU (18 Mei) lalu sakramen krisma untuk ke-6 anak didiku di St. Therese Church Chinatown Chicago (28 Mei) lalu 29 Mei aku bisa liburan ke Indonesia bersama Dharmawan. Kabar gembira lain yaitu aku dah dapat tiket JAL tuk liburan ke Indonesia dari 29 Mei hingga 21 Agustus 2006...jadinya yah 12 minggu persis.
Tanda terima kasihku buat Tuhan dan Bunda Maria yang terus menjagaku:
Denny Wahyudi, SX
Rome, 20 February 2006
DENNY WAHYUDI ALEXANDER
International Theology
CHICAGO, ILUSA
Re: Admission to Final Profession and Diaconate
Dear Denny Wahyudi,
I am very happy to inform you that, during session no. 26 of the General Council, the Superior General, with the favorable opinion of his Councilors, admitted you to the Final Profession in our Congregation. He also confirmed your admission to the Order of Deacon.
Together with our congratulations on this very important occasion in your life, we also wish to assure you of our prayers. May your final Consecration find you always faithful and may the Ministry of deacon bear witness to your consecration. In becoming a Minister to God’s People you must always be an example and encouragement to them. Always be faithful to the solemn and public promise to pray the daily Liturgy of the Hours in its entirety. You are a man of prayer and through prayer you will become pastor of the people and a messenger of Christ.
Draw up a plan, in dialogue with your Regional Superior, that will ensure you have an intense experience of the Diaconate; you should also begin to plan the time of your Ordination to the Priesthood.The Superior General, having learned of your desire to work in Japan, discussed the matter with the Councilors and is oriented towards assigning you to this mission immediately after your Ordination to the Priesthood. The final assignment will be made when you are admitted to the Priesthood.
We entrust this very solemn and important moment of your life to Our Blessed Lady, who has always guided and protected you.Fr. Luigi Menegazzo
Copy to:
Fr. I. Marchesin, Regional Superior, USA
Fr. V. Baravalle, Superior Delegate, Indonesia
KABAR GEMBIRA DARI DG SX DI ROMA BUATKU
Hari ini hari Selasa, 21 Februari 2006. Di pagi hari jam 10.10 saat aku membaca bacaan untuk kuliah hari Kamis, aku menerima telepon dari Pastor Provinsial SX di USA, Father Ivan Marchesin. Beliau memberitahukan secara resmi padaku bahwa permohonan kaul kekal dan diakonatku telah dikabulkan oleh Direksi General SX di Roma....sungguh gembira rasanya dan plong mendengarkan kabar ini. Dia forward e-mail dari wakil superior general sx, Father Luigi Menegazzo lalu aku abadikan di blog ini. Berita gembira yang sama di bawah ini bahwa aku akan diutus ke Jepang sebagai misionaris setelah aku ditahbiskan jadi pastor mungkin pertengahan tahun 2007 di Indonesia. Berkat dan rahmat Tuhan begitu besar, aku hanya bisa bersujud di kamarku dan mengucap syukur atas berita gembira ini seraya memanjatkan doa dan pujianku pada Dia yang telah memanggilku. Dengan "kidung Magnificat" aku bersujud di hadirat Yang Maha Kasih. Ini surat resmi dari Roma yang menjadi kenangan tersendiri bagiku....Salam dan doaku untuk negeri Sakura yang menjadi impianku....Sedianya aku akan kaul kekal di komunitas SX di Franklin-Wisconsin pada 6 Mei sore 2006 lalu tahbisan diakonat di Gereja St. Therese Chinatown Chicago tanggal 14 Mei 2006. Kutunggu hari-hari penuh harapan di bulan Mei dari kaul kekal, tahbisan diakonat, wisuda M.Div dari CTU (18 Mei) lalu sakramen krisma untuk ke-6 anak didikku di St. Therese Church Chinatown Chicago (28 Mei) lalu 29 Mei aku bisa liburan ke Indonesia bersama Dharmawan. Kabar gembira lain yaitu aku dah dapat tiket JAL tuk liburan ke Indonesia dari 29 Mei hingga 21 Agustus 2006...jadinya yah 12 minggu persis.
Tanda terima kasihku buat Tuhan dan Bunda Maria yang terus menjagaku:
Denny Wahyudi, SX
Rome, 20 February 2006
DENNY WAHYUDI ALEXANDER
International Theology
CHICAGO, ILUSA
Re: Admission to Final Profession and Diaconate
Dear Denny Wahyudi,
I am very happy to inform you that, during session no. 26 of the General Council, the Superior General, with the favorable opinion of his Councilors, admitted you to the Final Profession in our Congregation. He also confirmed your admission to the Order of Deacon.
Together with our congratulations on this very important occasion in your life, we also wish to assure you of our prayers. May your final Consecration find you always faithful and may the Ministry of deacon bear witness to your consecration. In becoming a Minister to God’s People you must always be an example and encouragement to them. Always be faithful to the solemn and public promise to pray the daily Liturgy of the Hours in its entirety. You are a man of prayer and through prayer you will become pastor of the people and a messenger of Christ.
Draw up a plan, in dialogue with your Regional Superior, that will ensure you have an intense experience of the Diaconate; you should also begin to plan the time of your Ordination to the Priesthood.
The Superior General, having learned of your desire to work in Japan, discussed the matter with the Councilors and is oriented towards assigning you to this mission immediately after your Ordination to the Priesthood. The final assignment will be made when you are admitted to the Priesthood.
We entrust this very solemn and important moment of your life to Our Blessed Lady, who has always guided and protected you.
Fr. Luigi Menegazzo
Copy to:
Fr. I. Marchesin, Regional Superior, USA
Fr. V. Baravalle, Superior Delegate, Indonesia
“Only the good and rational person
is capable of true friendship,
for reason stirs up and nourishes friendship”
(Francis DeSales)
Alexander Denny Wahyudi, sx
Xaverian Missionaries
1347 East Hyde Park Boulevard
Chicago, Illinois 60615-2924
Phone 773 643 5745
Fax 773 643 6907
Website:
http://www.xaviermissionaries.org and
http://acdw74.blogspot.com and
http://acdw74.multiply.comand and
http://www.xaverindo.org and
http://dennywahyudi.blogspot.com
Friday, June 03, 2005
4th Sunday in Ordinary Time, January 30, 2005
Monday, January 24, 2004. “We must make no compromise with a love that is contrary to the love of God” (Francis de Sales).
We heard of mourning news that the oldest brother of Father Willy Mukucha, SX named Leopold passed away because of his sickness in Canada. We all pray for him and his family in R.D. Congo.
On Friday January 28th I attended the last class of Human Sexual Development for Ministry at CTU in which I submitted my 10-page final paper and I would like to share to you as well. In the closing prayer at the last class we uttered our ‘erotic prayer’ and here I expressed my own prayer in the beginning of this paper.
HEALTHY HUMAN SEXUAL DEVELOPMENT FOR MINISTRY (I-4010)
J-Term 2005
O God, your are untouchable by my human senses
But you can be touched by our mind and words.
In inception you created me with loving touch of both of my parents
In inception you created me with genital touch of my father and mother
In inception you created me out of human passion and intercourse
In inception you created me through penetration and ejaculation
In inception you created me with union of her ovum and his sperm.
I commend to your compassionate touch:
My sexual awakening,
My sexual identity as a male,
My sexual commitment as a celibate person.
At the same time I commend to you:
My spiritual awakening
My spiritual identity
My spiritual commitment,
In union with you and others toward Healthy Human Sexual Development
Through Christ, our Master of Love and Compassion.
Amen.
1. How has my culture shaped my experiences and understanding of sexuality?
I was born and raised in East Java, Indonesia by a Chinese descent family who have already lived and adapted in local Javanese culture from a number of generations. In my family, my parents never talked about sex and sexuality to me because probably they considered that this issue is only for adult people and we will come to know about it when we are becoming adult. It is influenced so much of our local culture that talking about sex especially to the children is a taboo and shameful thing. It is only appropriately talked by adult persons and between a married-couple. Even my parents as I remember, never gave me advice about relationship to other gender as I grew up in high school. I came to know about sex and sexuality from my own searching, my self-discovery from newspaper, books and magazines. In the age of puberty, I was sometimes still confused and questioning about my own mysterious libido that I found out the answer from the wide-opened information in mass media. I felt ashamed also when somebody talking about this issue and I never raised the questions to competent persons.
In my own family, the greeting between our family members never expressed by touching each other, even I never embracing or shaking hand to my father, grandmother and siblings after so long time we did not meet each other. I never reflected deeply about this case but I ever read one article that some general culture among the Chinese descendants in Indonesia having such a custom. This influenced my way to relate others in school and society. Normally, I keep very strict boundaries to other gender in the relationship. The normal way to greet others in my own culture is shaking hand but never embracing each other.
Since in the kindergarten and primary school, gathering with other gender friends is a shameful way. It created a custom that I had to make friendship to my own gender, boys. Most of my close friends were boys and apparently I never had female friends in my house despite my own shyness attitude. At primary school normally we sit with the same gender friend and very seldom we sit with other gender friend. Once I sit with a female friend, I felt very uncomfortable and too cautious keeping boundaries especially in secondary high school.
Even though it seems that sexuality is taboo but in the society especially in mass media such as movie, film and advertisement, we can see daily performance that tends to sex and vulgar relationship between man and woman. It makes many children more curious to know about sex and sexuality without taken care by the parents and adult persons. The information that I got was ranging from positive to negative teachings and sometimes ambiguous and I did not know which one the right according to the norm of my Catholic religion. One major thing that probably makes me think and reflect is self-pleasure such as masturbation. It is struck me when I found that there are some different approaches and arguments regard to this issue in the traditional Catholic teaching and other modern thinkers. Some consider it as mortal sin and others as venial sin and one author says it is not sin. “Masturbation is not a sign of the perfection we as celibates strive to live; neither is it sin. It is simply imperfection-that which we all are and yet strive to overcome” (Donald Goergen, The Sexual Celibate, p. 203). Some myths about this disorder sexual custom in Indonesia influenced also my understanding about sexuality.
Since I have lived in the USA I have to adjust the custom and culture of embracing and hugging each other in friendship. When I saw this Western culture when I was in Indonesia, I wondered how I could adjust this custom. In my ministry at a retreat house as my Ministry Practicum I from CTU dealing with teenagers, I was struck by the relationship of girls and boys the retreatans who mostly the Caucasians. Among boys and girls, they have very close physical relationship as if there is no boundary. It never happened in my experience as a teenager in Indonesia. It somehow makes me appalled and jealous. As a minister among them, I should adjust theirs custom. Recently, after finishing the weekend retreat, at the closing prayer, some of the girls, the retreatans expressed their gratitude and peace to me with hugging and embracing. It made me being accepted by them and the gesture that I practiced was simply responding their first initiative to hug me then I opened to their gesture. Even though I have been living in the USA for two years but this gesture to hug and to be hugged especially with other gender still sometimes makes me feel little bit strange since it is not my custom in Indonesia. At the same time I feel good to touch and to be touched by others. One principle that I do agree and I have practice it in my ministry is “Touch is to be used in ministry only to address the needs of the person the religious is assisting, not to meet the needs of the religious” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).
In regard of human healthy boundary in a life of ministry, I see there is different value of one culture to another one. For example, in my country Indonesia, getting along with children at primary school (the picture below) such as my experience as I visited them before I departed to the USA is an acceptable manner. But, I do not think in the USA it can be practiced easily like in Indonesia, instead I should be cautious dealing with the children because the issue of sexual scandal of clergies. Therefore, I should be prudent on what I am doing in my ministry dealing with people, to respect local values and to be flexible in pastoral issues not to be rigid.
2. “Exploring Commitments and My Capacity for Making and Keeping Them”
I chose ‘FRIENDSHIP’ because this word recalls my experience dealing with so many people in my life as of now. Starting with my friends of close neighbors in some areas that I had been living in, namely schools, working places, my formation time in the Xaverian Missionaries, and all people whom I met during my ministry as a religious, teacher and a friend of them.
There is one special female friend who gave me a lot of meaning enduring what I have been choosing as a religious. Her care of me drew me to a certain feeling that I never had before, namely, feeling of falling in love to a girl. It put me on a threshold of my journey toward a missionary-religious-priesthood and at the same time transformed and awakened me who I am as a normal human being. In the insight of this experience, I want to try recalling my sweet memory dealing with myself in my great memorable experience to love and to be loved as a human being.
It is a really unforgettable story that I ever have in my life journey as a male being. One evening in August 2000, I attended a priesthood ordination of four priests in a Catholic Church in Jakarta-Indonesia. I have been attending a couple of times this kind of celebration since I was in High School. It is always a solemn Mass with a big celebration that I also want to experience to be one of the ordained priests someday. After the Mass lasted I met some nuns who are friends of my Xaverians confrere. They introduced me to a nice-looking girl who is their friend. Back on that day, I was very happy meeting with her while she was joking and telling me that she is a candidate of nun. I knew that she was just kidding. It was a nice day that I could ever have in my life and imagined as if she would be one of my friends. Since I did not have any idea who really she is; so my impression lasted on that day. A couple of days later, she called me up in my Xaverians philosophy house and since then she often did so. In the beginning I was so happy receiving her phone call because I never had this kind of experience that a girl friend has attention to me. In the human level, I was consoled but I was wondering with myself: how do I deal with such a feeling and my religious life. In one side, I was happy to have a girl friend that gave me attention but the other side my heart was not in peace because I have chosen a celibate-religious life. It seemed that she did call me up often times till she asked me favor to come visiting me in my Xaverians house. I welcomed her delightfully and she came with her girl friend as well. In the beginning, she told me that she wanted to know some religious orders of nuns but after she came, she never wanted to know them. I guessed she only wanted to know my life closely. After this visit, she continued calling me up almost everyday. Finally one evening she asked me help to accompany her to go to a hospital since she did not have a friend. I did not answer directly what she asked, instead I needed some time to decide it. In my prayer in the chapel, I had a fixed and clear answer to say NO to her, but after she called, I could not say NO, but saying YES. I did not know why I could not deny her hope. Probably, I already had a certain feeling and wanted to meet her again. To say that I experienced what people say, falling in love. It was a really a joyful feeling that I ever have in my life. Even though I know that I have embraced my religious life but I still had this kind of feeling, to love other that is the opposite sex. Eventually, I met her and I had mixed motivation to meet her: to help her and to meet her because she was interesting to me. First time I met her, after taking her to a hospital, she invited me to go to have lunch at a Mall. I told her that it would be a scandal if someone knows that I go with her. But, anyway, I did that while I hoped nobody would see me. In our conversation during the lunch, she tried to know my identity and I did so. Afterward, we entered a store and she bought two cassette tapes of pianists, Richard Clayderman and Sharon, a little Chinese girl pianist. I was wondering why she bought two same cassettes at a time. At the counter of cashier, she wrote on the tape her name and the date we had that time, 31 August 2000 and gave one to me. I could not deny her kindness while she said, “When you come to your house, listen to it and when you listen to it, please remember me.” In my daily lives, my mind, my heart and my dream were devoted to her. If I heard a phone ring, my heart was trembling and my affection suddenly remembering her. The second time, I accompanied her to go to a hospital to have treatment for her sickness. This time she treated me to eat noodle at a restaurant. The third and the last time, I accompanied her to have a small operation of her sickness. This time I had an initiative to exchange our pictures. The more I knew her closely, the more I wanted to remember her face in my dream and imagination. Finally, I got her picture that I could see it everyday when I had missed her.
One Sunday noon, she invited me in her friend’s birthday. We were four, namely three girls and including me. We had lunch at a Mall and I parked my bicycle in a motorcycle parking lot at the basement. After we had a good time, I went to the basement to take my bicycle. One thing happened that I never expected before, namely, my favorite bicycle, which took me to many places in Jakarta was lost. I tried to find it out but I could not get it. Somebody had stolen it. I was so depressed and sad with this experience. After a happiness I got, I had to take up a very sad moment; how contrast it was. My Xaverians confreres, who knew what I had done, most of them laughed at me. It was a big mistake that I did and really an embarrassing one.
What I could learn of this experience was: I have to be grateful that I did not lose my vocation to be a missionary-religious-priesthood, but God was still kind to me and God had a sense of humor that the lost of my bicycle reprimanded me to be careful with my relationship and my feeling toward others. Knowing my bicycle was lost, she and her friends felt sorry and I said no problem; “it’s not your fault, it’s a really tragedy, it shouldn’t bother you.” After this event, she was very seldom to call me up. In the beginning, I was feeling sad and lost of her but with time running, I could endure and accept it. My feeling of love and to be loved, little by little, was disappearing. I recalled my study that I received from my professors in my philosophy study: “To love and to be loved as a human person are the highest meaning we can draw in our life” (Franz Magnis Suseno, SJ). Another lesson of my professor is when I fall in love, as soon as possible I should stand up, awake and be aware of then to build this love in positive way. From my spiritual director I learn that to love is a commitment, not a feeling merely. This unforgettable memory strengthens my commitment to embrace my religious life even though in the beginning it cost me a lot of tension and confusion in my own personality and freedom. To be honest to myself and to others especially my formator, I told this love story both to my formators and my confreres in order to let them know who I was at that time and to ask help to endure this long-life vocation. My strength is that I could accept this moving experience as a positive lesson and to share plainly to others. In addition, to treat her and other friends as God’s people in their dignity and still keep them in my prayer that God allowed them to come into my life story.
It suggests me to be more aware that I am a man who needs care, love, attention and acceptance of others especially other gender. It makes me realized that I am a normal man who devotes myself to God’s service in a celibate way with all consequences such as loneliness, lack of love and attention of others, depression and isolated life. In my fragility as a human being, I just surrender to God’s compassion to keep me being faithful in my daily journey. When I fall down into temptation, I believe it signs me that I am a fragile human, not myself who can endure this kind of life but merely God’s love and compassion and also God’s great grace. Without God, I am nothing. My commitments to my religious life in order to ministering God’s people are full of struggle in my whole life that require a lot of patience, wisdom and daily denying of myself. In my weaknesses I commit myself to God. “If anyone desires to come after me, let him deny himself, take up his cross daily and follow me.” (Luke 9:23).
I am grateful to have this kind of experience of feeling, falling in love and to be loved by the other. I never had this experience before, so I am grateful to my friend who finally married with her chosen man. Even, with my big heart, I attended their wedding both the reception and the ceremony at a church.
Even though she never told me about her feeling and I never did so, but from her attitude, gesture and symbols that she expressed externally to me, I considered them as a symbol of love. Maybe I made a mistake to draw a meaning quickly. It is a really good experience and lesson to me to pass my crisis and threshold toward my previous way of life in the Xaverians Missionaries that I have chose freely. This experience I believe, is a message of God that challenges me whether I am still faithful to my vocation to become a religious-missionary-priest or not. With this experience, it does not mean that I will not fall again in the same case. At least, I had known what is the meaning to be loved by others and it entails me to be humble and not to take advantage for my own self. Moreover I have to surrender to God’s will, not me O God, not me, but only your love enables me to love others respectfully.
Some clues that I can enhance my ability to be with others in a committed relationship in ministry are to be honest to myself and to respect others in their dignity as human beings and do my best to love them in mutual and unconditional way. Full of compassion and forgiveness to others will cure some conflicts that may occur in the relationship. To be aware of the ministry boundaries is a wise way to relate to others in the ministry and at the same time not to be afraid in dealing with them in cooperative way as teamwork. To be authentic as I am in front of the others will help others and myself as well to know each other better.
3. Sexuality and Spirituality
In a celibate life I am enduring now the spiritual life is the core of this way of life. To be spiritual does not mean that I neglect my sexuality and my body instead I have long life duty to integrate both sexuality and spirituality. The goal of both the sexual life and spiritual life is union of the individual with God and with others. Being sexual involves many aspects of personality: affectivity, sociality, genitality, femininity, masculinity, heterosexuality, homosexuality, sexual identity and love. In the spiritual development according to Goergen there are three phases, namely, spiritual awakening, religious identity and spiritual commitment. In the parallel of this spiritual development, there is also sexual development, namely, sexual awakening, sexual identity and sexual commitment.
A sexual awakening happens in one’s life when sexuality comes to life with full force that gives rise also to a spiritual awakening. It begins in childhood, an adolescent phase, matures to old age where it bears fruit. Once a person has become spiritually aware, the task of sexual identity and spiritual identity are discovered. I come to accept myself as a sexual person of a certain sex and a certain sexual orientation. I begin to see myself as a spiritual person within a particular religion or belief. Commitment or decision is an important task in becoming a spiritual person. Goergen points out that the spiritual awakening brings spirituality to the level of awareness, the spiritual identity brings it to the level of self-acceptance and the commitment brings it to the level of responsibility. The commitment is not merely mine but it involves other people. In the celibate life, the commitment deals with community not only God and myself. I do agree with this statement, “The most effective way to prevent misconduct in ministry is to nurture healthy relationships with colleagues (i.e., members within congregations), with others, and with God, as well as to pay heed to mind-body-spirit connections” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).
The celibate life can be understood in the relationship of oneself to God, to fellow men and women. Celibate chastity is not something I can achieve once and for all but a life-long process that implies a growth toward maturity and union with God and others. Kierkegaard says that purity of heart was to will one thing. Even though I believe that the celibate life is my life I chose freely but as a normal human being, I believe that sometimes I fall short in temptations. It reminds me that I am not perfect, I still need to be humble asking God’s compassion and strength to stand up again toward the ideal. A spiritual person as Saint Augustine exemplified, is restless until one rests in God. “Spirituality is less about getting it right all the time and more about realizing that pain, struggle, and mistakes are an essential part of living. The full appreciation of inner serenity is achieved only after having to come to terms with one’s own weakness, limitations, and shortcomings” (Kevin P. McClone).
Goergen suggests to live and keep the celibate life, one should live it out in the spirit of discipline, solitude and joy. The discipline life is not for discipline itself but always for the integration and wholeness of the person. “Fulfillment paradoxically comes through healthy asceticism, sacrifice, and surrender” (Kevin P. McClone). The goal of solitude life is love and compassion. It must be based on prayer and meditation. In the Song of Songs the lovers after uttering extravagance of language realizes the insufficiency of words. “The search for love also reveals the need for a balance between solitude and intimacy. The call to intimacy is also a call to learn that, however much two people love each other, they never own each other nor finally know each other” (Philip Sheldrake). There are three spiritual joys in the heart of celibate person, namely friendship, ministry and prayer. These joys are never complete in our lives because our joys are mixed by negative feelings and experiences. Our joy will be completed perfectly by God in the eschatological kingdom.
CONCLUSION
To live the healthy human sexual development for ministry in my celibate life is not based on the celibate life of Jesus of Nazareth but upon Jesus of Nazareth as fully human, as a sexual and spiritual being, as man of faith, as God’s presence in history, as revelatory event, as corporate person, and as the Christ who calls us and invites us to live as He did and does. It is my duty as a celibate person to integrate my life of both a sexual and spiritual being at the service of God’s Kingdom. In order to endure this virtue I remember the Testament–Letter number 5 of the founder of the Xaverian Missionaries, Blessed Guido Conforti, “Remember, humility is the best safeguard of chastity. There is no better application for the wisdom of Sirach than here: ‘He who wastes the little he has will be stripped bare’ (Sir. 19:1).”
“Humility is recognizing our fundamental need for others and God. Humility is not thinking too much or too little of oneself but a more realistic acceptance of who we are with all our strengths and limitations” (Kevin P. McClone).
Tuesday, January 25, 2004. “I live no longer I, but Christ lives in me” (Paul, Gal 2:20)
Wednesday, January 26, 2004. “Love is so powerful that it makes one heart and one will of lover and beloved” (Catherine of Siena).
Thursday, January 27, 2004. “Obey divine inspirations that you may recognize as coming from the Holy Spirit” (Angela Merici).
In the afternoon we had a community meeting evaluating our community project of life in the dimension of community life.
Friday, January 28, 2004. “We need to be led to God by the world we sense and by thinking of Christ the man, so that seeing God with our own eyes we can be lifted up to love what we cannot see” (Thomas Aquinas)
I attended the last class of sexuality at CTU in which we did evaluation of the class and closing prayer and I submitted my final paper. After finishing the class we exchanged peace manner with embracing and hugging each other as I adjust and embrace this culture prudently while some of the professors touted me because of my ‘erotic’ prayer I uttered at the closing prayer.
To express my gratitude having finished my J-Term three weeks class at CTU, I headed to Saint Peter Loop Church run by Franciscan Friars (OFM) at downtown Chicago by CTA bus to receive the compassion and love of God through confession or sacrament of reconciliation that I believe a special grace of God offered to me.
In the evening after supper, I had plenty of time to write this journal.
Saturday, January 29, 2005. “It is difficult to become a saint. Difficult, but not impossible. The road to perfection is long, as long as one’s lifetime. Along the way, consolation becomes rest; but as soon as your strength is restored, you must diligently get up and resume the trip” (Padre Pio).
With Ignas and Father Rudi Subagyo, osc, I went to Taste of Indonesian 2005 for the Great Tsunami Relief at the Salvation Army, Des Plaines from 12.15 p.m. to 3.30 p.m. It was held by several Indonesian groups and corporations in Chicago and visited by Indonesian and American people who care of the suffering victims of this greatest natural disaster in the history of humanity in the world. There were also the Indonesian Consulate General in Chicago, Mr. Daulat Pasaribu and Jesse White the Secretary State. It was reported by some several mass media in Chicago such as Chicago Tribune, ABC News, CLTV, etc. The event consists of video clip presentation of the Tsunami tragedy, remarks by Indonesian Consul General in Chicago and Jesse White, Indonesian traditional songs, music and dances beside lunch. Congratulation to the committee who worked hand in hand so that this event of charity could be held successfully. They are Chicago City Blessing (CCBC), Glory of the Lord Fellowship Pentecostal Church (GOLF) Chicago, Indonesian Christian Fellowship (ICF) Chicago, Indonesian Students Association (PERMIAS) Chicago and Kalamazoo, International Full Gospel Fellowship (IFGF) Chicago, Masyarakat Budha Indonesia, Masyarakat Hindu Indonesia, Masyarakat Muslim Indonesia in Chicago, Persekutuan Masyarakat Kristen Indonesia di Chicago (PMKI) and Paguyuban Warga Katolik Indonesia di Chicago (PWKI). Special thank I implore to Ibu Imelda Palmas who invited us to come to this event. Thank you very much.
Sunday, January 30, 2005. “Blessed are the clean of heart, for they will see God” (Matthew 5).
In the morning at 8 I attended Mass at Saint Thomas Church then did some work at the basement and laundry. In the afternoon I cooked simple food: Pizza and Tom Yum soup.
Tomorrow morning, Monday till Friday evening, we as community will be at Portiuncula retreat house, about 40 minutes away South of Chicago to have retreat guided by an SCJ father, John Czyzinski (the present novice director of the Sacred Heart Fathers in Hyde Park, Chicago).
5) Hari Minggu Biasa ke-4, 30 Januari 2005
Senin, 24 Januari 2004. “Kita seharusnya tidak membuat suatu kompromi dengan kasih yang bertentangan dengan kasih Allah sendiri” (Fransiskus dari Sales).
Kami mendengar kabar duka cita bahwa kakak tertua dari Pastor Willy Mukucha, SX yaitu Leopold meninggal dunia karena sakit stroke di Kanada. Kami semua berdoa bagi arwahnya dan keluarganya di R.D. Congo.
Pada hari Jumat 28 Januari saya menghadiri kuliah hari terakhir untuk Perkembangan Seksualitas Manusia yang Sehat untuk karya kerasulan/pelayanan di CTU di mana saya juga pada kesempatan ini membagikannya kepada Anda sekalian. Dalam doa penutup pada kelas terakhir hari Jumat ini, kami masing-masing mendoakan doa ‘erotis’ karya kami dan di sini saya juga mensharingkannya pada Anda di awal paper akhir saya (namun paper lengkapnya silahkan dibaca di edisi bahasa Inggrisnya di atas).
HEALTHY HUMAN SEXUAL DEVELOPMENT FOR MINISTRY (I-4010)
J-Term 2005
Ya Allah, Dikau tak tersentuh oleh indera manusiawiku
Namun Dikau dapat disentuh oleh pikiran dan kata-kataku.
Pada permulaan Dikau menciptakanku dengan sentuhan kasih kedua orang tuaku
Pada permulaan Dikau menciptakanku dengan sentuhan kelamin papi dan mamiku
Pada permulaan Dikau menciptakanku dengan nafsu dan persetubuhan manusiawi
Pada permulaan Dikau menciptakanku melalui penetrasi dan ejakulasi
Pada permulaan Dikau menciptakanku dengan persatuan sel telur mamiku dan sel sperma papiku.
Kuserahkan pada belaian belas kasihMU:
Kesadaran daya seksualitasku,
Identitas daya seksualitasku sebagai seorang lelaki,
Komitmen daya seksualitasku sebagai seorang selibat.
Pada saat yang bersamaan pula aku menyerahkan padamu:
Kesadaran daya rohaniku,
Identitas daya rohaniku,
Komitmen daya rohaniku,
Dalam persatuan dengan Dikau dan sesamaku menuju Perkembangan Seksualitas Manusiawi yang sehat.
Demi Kristus, Guru cinta dan belas kasih kami,
Amin.
Selasa, 25 Januari 2004. “Aku hidup bukan lagi aku, namun Kristus hidup dalam diriku” (Paulus, Gal 2:20)
Rabu, 26 Januari 2004. “Cinta itu sedemikian dahsyatnya sehingga dapat membuat satu hati dan satu kehendak dari pencinta dan yang dicintai” (Katharina dari Siena).
Kamis, 27 Januari 2004. “Taatilah inspirasi ilahi yang mungkin engkau ketahui datang dari Roh Kudus” (Angela Merici).
Di sore hari kami mengadakan pertemuan komunitas mengevaluasi program hidup bersama kami yang kali ini adalah bagian dimensi hidup bersama.
Jumat, 28 Januari 2004. “Kita perlu dipandu menuju Allah oleh dunia yang mampu kita indera dan oleh pemikiran tentang Kristus manusiawi, sehingga melihat Allah dengan mata telanjang kita ini kita akan dapat terangkat pada cinta apa yang tidak mampu kita lihat” (Thomas Aquinas)
Saya menghadiri kelas terakhir tentang seksualitas di CTU di mana kami menuliskan evaluasi atas kuliah ini terutama atas materi kuliah ini dan cara penyampaian materi oleh para dosen rekanan lalu ditutup dengan doa pentutupan serta saya mengumpulkan paper akhirku. Setelah mengakhiri kelas ini kami saling membagikan salam damai dengan tradisi budaya Amerika Serikat ini saling berpelukan dan merangkul satu sama lain sebagaimana saya telah beradaptasi dan memeluk budaya ini dengan bijak sementara beberapa dosen memujiku karena doa ‘erotis’ ku yang kudoakan di acara doa penutupan ini.
Untuk mewujudnyatakan syukurku telah mengakhiri kuliah tiga minggu J-Term ini di CTU, saya pergi menuju Gereja Santo Petrus Loop di downtown Chicago yang dilayani oleh Ordo Fransiskan (OFM) dengan naik bis CTA untuk menerima belas kasih dan cinta Allah melalui pengakuan dosa atau sakramen rekonsiliasi yang kupercaya sebagai suatu rahmat khusus yang ditawarkan oleh Allah bagi diriku secara pribadi.
Malam hari setelah makan malam, saya punya banyak waktu untuk menulis jurnal mingguan saya ini.
Sabtu, 29 Januari 2004. “Adalah sulit untuk menjadi orang kudus. Sulit, namun bukannya tidak mungkin. Jalan menuju kesempurnaan itu panjang, sepanjang kurun waktu hidup seseorang. Sepanjang perjalanan, penghiburan menjadi peristirahatan; namun segera sesudah kekuatanmu pulih kembali, engkau haruslah dengan tekun bangun dan melanjutkan perjalanan ini” (Padre Pio).
Bersama dengan Ignas dan Romo Rudi Subagyo, osc, saya pergi ke sebuah acara penggalangan dana untuk korban Tsunami di Indonesia bernama TOFI (Taste of Indonesian 2005 for the Great Tsunami Relief) di the Salvation Army, Des Plaines dari jam 12.15 hingga 3.30 sore. Acara ini diadakan oleh beberapa kelompok dan organisasi Indonesia di Chicago dan sekitarnya dan dikunjungi oleh masyarakat Indonesia dan Amerika di Chicago yang peduli akan para korban bencana paling besar dalam sejarah kehidupan umat manusia di dunia, Tsunami 26 Desember 2004. Nampak pula dalam acara ini Bapak Konsul Jenderal Indonesia di Chicago Daulat Pasaribu dan Mr. Jesse White, the Secretary State. Acara ini diliput oleh berbagai macam media massa di Chicago seperti Chicago Tribune, ABC News, CLTV, dsb. Acara ini terdiri dari penayangan video klip tsunami ini, kata sambutan dari Pak Konjen dan Mr. Jesse White, lagu, musik dan tarian tradisional Indonesia serta makan siang. Selamat kepada seluruh anggota komite yang telah bekerja keras dalam kerjasamanya sehingga acara amal dana ini terselenggara dengan sukses. Mereka adalah Chicago City Blessing (CCBC), Glory of the Lord Fellowship Pentecostal Church (GOLF) Chicago, Indonesian Christian Fellowship (ICF) Chicago, Indonesian Students Association (PERMIAS) Chicago and Kalamazoo, International Full Gospel Fellowship (IFGF) Chicago, Masyarakat Budha Indonesia, Masyarakat Hindu Indonesia, Masyarakat Muslim Indonesia in Chicago, Persekutuan Masyarakat Kristen Indonesia di Chicago (PMKI) and Paguyuban Warga Katolik Indonesia di Chicago (PWKI). Ucapan terima kasih secara khusus saya haturkan untuk Ibu Imelda Palmas yang telah sudi mengundang kami untuk acara ini. Limpah terima kasih.
Minggu, 30 Januari 2004. “Terberkatilah mereka yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mateus 5).
Pagi hari pukul 8 saya ikut misa di Santo Thomas lalu mengerjakan sedikit kerja di basement dan cuci baju. Sore harinya saya memasak makanan yang siap saji tinggal dimasukkan oven, Pizza dan sup ala Thailand, Sup Tom Yum.
Besok hari Senin pagi hingga Jumat malam, kami akan berada ke rumah retret Fransiscan di Portiuncula, 40 menit sebelah Selatan Chicago untuk mengikuti retret bersama komunitas kami yang akan dipimpin oleh pastor SCJ bernama John Czyzinski (magister novis SCJ saat ini di Hyde Park, Chicago).