Friday, April 03, 2009

Pengalaman 8 Bulan di Jepang (3 Agustus 2008 – 3 April 2009)

Pengalaman 8 Bulan di Jepang (3 Agustus 2008 – 3 April 2009)
P. Alexander Denny Wahyudi, S.X.

Bahasa Jepang
Sejak dari Italia saya sudah mencoba mencicipi nuansa bahasa Jepang yang terkenal sulit ini. Dari internet saya mendapatkan banyak pelajaran bahasa Jepang gratis selain beberapa buku yang saya beli saat itu. Perkenalan saya akan pelajaran bahasa Jepang ini menjadi nyata ketika saya menemukan sebuah Injil Lukas berisi beberapa bahasa termasuk bahasa Jepang. Karena saya sudah belajar bagaimana cara membaca tulisan Jepang, yaitu Hiragana dan Katakana maka dengan Injil Lukas yang saya temukan ini membuat saya terpacu untuk membaca dan membaca tulisan Jepang ini. Memang tulisan bahasa Jepang terdiri dari tiga macam tulisan yaitu Kanji, Hiragana dan Katakana. Dalam Injil yang saya temukan itu terdapat tulisan Kanji Jepang yang memiliki furigana alias huruf Hiragana di samping tiap Kanji, maka meskipun saya tidak tahu banyak arti dari kata-kata Jepang itu namun tiap hari saya latihan membaca dalam hati tulisan-tulisan itu. Setiba di Jepang bulan Agustus 2008, saya sangat bersemangat untuk mencoba melihat dan membaca tiap tulisan Hiragana dan sedikit Kanji yang sudah saya pelajari sendiri saat di Italia. Sungguh suatu pengalaman yang sangat menyegarkan di awal hidup saya di Jepang ini. Kendati Nihongo (bahasa Jepang) ini sulit namun bila dipelajari dengan baik dan sistematis maka lambat-laun pasti bisa dikuasai.
Selama 1,5 bulan saya diberikan waktu bebas untuk menikmati banyak tempat indah baik di Osaka dan Pulau Kyushu di mana Xaverian berkarya. Mulai pertengahan September 2008 saya mulai sekolah bahasa Jepang di YWCA (Youth Women Christian Association) Kumamoto. Metode sekolah ini adalah privat dan saya tidak belajar dengan murid lain namun hanya berdua dengan konfrater saya yaitu Felipe Lopez asal Mexico. Tiap minggu 4 kali kami belajar di sekolah yang berjarak sekitar 5 km dari paroki Shimasaki, Kumamoto. Setiap pertemuan hanya dua jam dari jam 10 s.d. 12 siang. Jadi dalam satu minggu hanya 8 jam di sekolah. Buku yang digunakan adalah Minna no Nihongo yang langsung dari awal selalu tertulis dalam tulisan Jepang, Hiragana dan Kanji. Membandingkan pengalaman belajar bahasa di Amerika Serikat dan di Jepang ini maka saya langsung tidak puas dengan sekolah yang saya punya di Jepang ini. Bagaimana tidak? Belajar bahasa Inggris yang sudah saya pelajari sejak di bangku SMP lalu di Amerika saya belajar khusus saja seminggu bisa 25 jam namun belajar bahasa Jepang yang belum banyak saya pelajari cuma 8 jam seminggu. Sungguh suatu kemunduran bagiku. Namun karena saya orang baru dan harus menuruti apa yang sudah diputuskan dan ditentukan oleh pimpinan jadi saya mengikuti apa adanya. Sampai di awal Januari saya mencoba mengunjungi satu sekolah bahasa Jepang lain yang terkenal lebih berbobot yaitu YMCA (Youth Men Christian Association) Kumamoto. Dari kunjungan saya ini membuahkan hasil sampai suatu saat pimpinan saya di Jepang ini memberikan kesempatan buat saya untuk mencoba ikut tes masuk bulan Maret lalu dan diterima dengan baik. Maka, sungguh suatu perjuangan yang membuahkan hasil. Syukur kepada Tuhan bahwa saya diperkenankan masuk sekolah baru ini yang akan mulai 13 April 2009 nanti dengan kontrak selama dua tahun penuh. Kebalikan dengan sekolah sebelumnya, sekolah baru ini lebih menekankan persiapan para muridnya untuk menguasai banyak hal termasuk tes masuk ke perguruan tinggi di Jepang. Aspek budaya dan peraturan yang ketat turut menjadikan YMCA ini suatu pilihan yang sangat tepat buat saya pribadi. Mohon doa dari para konfrater dan saudara sekalian semoga dengan semangat yang sama saya terus belajar dengan baik di sekolah baru ini.
Sejak awal saya tinggal di Jepang saya sudah mencari buku-buku yang bisa dipakai untuk doa dan misa harian dalam bahasa Jepang. Jadi, praktis saat saya pindah di Kumamoto sejak September 2008 saya selalu memimpin misa saat saya giliran dengan bahasa Jepang, dengan tulisan Jepang namun tanpa umat karena dalam misa harian. Sejak awal pula pastor paroki di sini memberikan nasehat agar kami bersabar dengan bahasa Jepang dan diperbolehkan memimpin misa dengan umat setelah setahun di Jepang. Namun secara pribadi saya memulai sendiri belajar membaca tulisan misa bahasa Jepang dan memakaianya setiap hari baik dalam misa maupun doa Rosario. Alhasil, apa yang sudah saya jalankan sejak awal membuat saya makin percaya diri bahwa saya bisa membaca tulisan Jepang dengan baik. Banyak fasilitas untuk belajar bahasa Jepang yang saya miliki seperti komputer Fujitsu yang sejak awal dihadiahkan bagi saya saat saya tiba di Jepang. Komputer dengan sistem Jepang ini membuat saya sangat antusias mengenal tulisan Jepang dan bagaimana mengetik tulisan Jepang. Alkitab seluruhnya dalam bahasa Jepang saya dapatkan baik dari buku Alkitab maupun software di komputer dan juga audio. Sungguh suatu bahan yang sangat mendukung. Sejak awal tahun 2009 saya diberikan buku misa harian lengkap dengan doa-doa misa dan bacaan misa harian dalam tulisan Jepang. Buku ini membuat saya lebih bersemangat untuk mempelajari sendiri bagaimana membaca tulisan Jepang dengan bantuan komputer dan juga kamus elektronik yang juga saya beli sejak awal. Tidak puas dengan membaca misa dalam tuisan Jepang yang ada furigananya, saya mulai menghafalkan dan mendaftar semua Kanji dalam misa dan akhirnya saya berani menggunakan buku misa kecil tanpa furigana, jadi berupa Kanji Jepang yang semakin saya kenal karena tiap hari saya baca. Setelah mengenal bagaimana sistem penggunaan buku misa saya memberanikan diri membeli satu buku besar berisi doa dan bacaan misa lengkap untuk sepanjang tahun yang mencakup tahun A, B dan C yang berjudul “Mainichi no Misa”. Setelah belajar bahasa Jepang dari sekolah, maka saya memberanikan diri untuk mendekati umat tiap hari Minggu dan praktek bicara dengan mereka setelah selesai misa. Sungguh suatu perjuangan yang harus terus diasah karena apa yang saya pelajari dari sekolah berbeda dengan kosa kata harian dalam percakapan. Ke mana pun saya pergi saya sudah berani bertanya dan berjalan sendiri dengan kemampuan bahasa Jepang apa adanya. Di bulan Januari saya berani pergi ke Osaka sendiri dengan naik bis dari Kumamoto. Saya membawa sepeda lipat saya dan berani mencari alamat teman saya di Osaka dengan bertanya-tanya kepada banyak orang di sepanjang jalan saat saya tersesat. Suatu kepuasan tersendiri ketika saya akhirnya bisa menemukan alamat teman saya itu. Fasilitas lain yang saya gunakan untuk belajar bahasa adalah internet terutama Facebook yang dapat digunakan untuk merekam video langsung dari webcam dan laptop. Saya merekam banyak video yang isinya pelajaran bahasa Jepang atau doa Rosario dan misa serta bacaan Injil Mingguan dalam bahasa Jepang dan bahasa-bahasa lain.
Selain pelajaran bahasa Jepang di sekolah resmi di atas saya juga menemukan melalui Internet satu tempat khusus yaitu Kumamoto International Center untuk belajar bahasa Jepang gratis. Sejak akhir Januari saya datang ke tempat studi ini dan ada beberapa guru bahasa Jepang yang dengan sukarela mengajar secara privat atau pun berkelompok. Tiap Rabu dan Minggu saya sudah beberapa kali mengikutinya dan bertemu dengan banyak teman dari negara lain seperti Cina, Korea, Philipina dan Indonesia tentunya. Tiap pertemuan berlangsung selama dua jam dan boleh belajar 4 jam dalam sehari dalam jam yang berbeda. Kalau dari awal saya tahu akan hal ini saya pasti memanfaatkannya dengan baik. Namun karena sudah di akhir Januari saya baru tergugah untuk mengikutinya berkat pencarian sendiri maka sudah agak terlambat. Lagi pula sekolah baru saya nanti sudah banyak menuntut perhatian dan waktu yaitu di YMCA Kumamoto yang selalu memberikan ujian harian dan ujian kenaikan tingkat. Maka waktu dan perhatian saya akan tersita untuk studi ini dan barangkali tidak lagi datang ke sekolah bahasa Jepang gratis di Kumamoto International Center itu.
Selain itu saya juga mendaftar di YMCA Kamitori di Kumamoto juga untuk mendapatkan satu partner orang Jepang yang memberikan kesempatan face to face bicara dan bercakap dalam bahasa Jepang. Kesempatan ini gratis dan saya tinggal menunggu kabar dari pihak YMCA Kamitori setelah mereka mendapatkan satu volunteer mereka akan menghubungi saya dan tiap minggu dapat bertemu sekali selam satu jam. Volunter yang ada biasanya adalah calon guru bahasa Jepang. Saya masih terus berharap mendapatkan kabar segera dari yang satu ini.
Intinya belajar bahasa Jepang memang sangat menyenangkan kalau kita tahu bagaimana metode, cara, kesempatan dan link yang membuat kita terus terpacu untuk ingin tahu. Dan ini semua sudah saya coba sedemikian rupa sehingga akhirnya saya mendapatkan sekolah bahasa Jepang yang sungguh sangat intensif yaitu YMCA Kumamoto. Saya berharap dengan sekolah baru ini nanti saya dapat menguasai bahasa Jepang dengan lebih lengkap bukan hanya tata bahasa saja tapi juga gaya hidup dan budaya Jepang serta mengenal banyak teman dari berbagai bangsa terutama dari Cina memberikan kesempatan emas bagiku untuk memberikan kesaksian nyata secara Kristiani dan juga sebagai orang Indonesia yang memiliki darah Cina juga namun sama sekali tidak berbahasa Cina.

Hidup Komunitas
Xaverian yang berkarya di Jepang saat ini ada 34 orang yaitu 2 dari Spanyol, 1 dari Brasil, satu dari Mexico dan saya sendiri dari Indonesia. Kami yang sedang belajar bahasa Jepang ini tinggal di satu paroki kecil di Shimasaki, Kumamoto dengan pastor kepala paroki, Danilo Marchetto, S.X. (56 tahun) yang sudah berada di Jepang selama 20 tahun dalam dua periode berbeda. Terkenal di Jepang bahwa tiap Xaverian biasanya hidup dan berkarya sendiri di paroki-paroki kecil. Dan hal ini benar adanya namun tiap bulan ada pertemuan rutin di antara Xaverian di dua zona berbeda yaitu Osaka di sebelah Utara di rumah regional Xaverian di Izumi Sano, Osaka dan kami semua yang berada di Selatan yaitu Pulau Kyushu termasuk Kumamoto berkumpul di rumah Xaverian di Ehira, Miyazaki.
Gaya hidup di Jepang sungguh sangat nyaman dalam fasilitas dan materi namun gaya kemiskinan tetap menjadi hal yang patut diperjuangkan karena banyak tawaran teknologi dan banyak hal lain yang bisa didapat dengan mudah. Bagaimana tidak? Sejak awal tiap anggota Xaverian mendapatkan tiap bulannya stipendium dari pihak Xaverian di Jepang melalui kantor pos yaitu tabungan atas nama saya pribadi. Sampai saat ini apa yang saya terima lebih dari cukup dari yang saya butuhkan. Yang pasti uang ini dipakai untuk biaya hidup tiap bulan. Dari awal pula saya sudah diminta untuk mencari SIM mobil namun saya belum merasa fasilitas mobil ini saya butuhkan di samping saya harus membutuhkan banyak latihan dalam mengendarai mobil, saya tetap semangat menggunakan sepeda sebagai transportasi harian saya terutama ke sekolah yaitu 20 menit sekali jalan. Lagi pula pihak sekolah bahasa Jepang saya yang baru yaitu YMCA, melarang muridnya mengendarai mobil pribadi ke sekolah maka saya sangat puas dengan bersepeda yang menjadi kebiasaan sejak di Indonesia.
Sejak 1,5 bulan lalu saya mengenal beberapa teman Indonesia di Kumamoto ini. Mereka adalah para mahasiswa studi lanjut untuk dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mereka belajar di Universitas Kumamoto dalam program doktoral, master dan juga post-doktoral. Mereka biasa tinggal bersama keluarga mereka di Jepang yaitu anak dan isteri mereka. Ada sekitar 15 mahasiswa Indonesia di Kumamoto ini. Dari perkenalan dengan teman-teman Indonesia ini saya akhirnya mengetahui toko Indonesia yang menjual bahan-bahan makanan dari Indonesia. Maka saya membeli indomie, bumbu-bumbu instant yang sangat berguna untuk masak makanan Indonesia di komunitas saya sekali-sekali. Pernah sekali saya masak nasi kunig, rendang padang, krupuk dan rempeyek serta kacang ijo. Dengan para mahasiswa Indonesia ini pula saya diajak berpartisipasi dalam menari poco-poco untuk ditampilkan di Kotsu Center, dekat terminal bis Kumamoto. Hanya berlatih dua kali hari Sabtu akhirnya saya pun bisa menari poco-poco. Satu pengalaman pertama dalam hidupku bahwa aku bisa menari poco-poco, biasanya selalu saya menghindar kalau ada tarian poco-poco karena memang tidak hafal.

Pengalaman Pastoral
Saya dipercaya untuk memimpin misa bahasa Inggris tiap minggu ketiga di gereja Musashigaoka di mana berkarya Pastor Renato Filippini, S.X. Yang hadir dalam misa bahasa Inggris kebanyakan adalah para ibu muda Filipina yang menetap di Jepang. Mereka datang bersama anak-anak mereka dan mayoritas suami mereka adalah orang Jepang yang bukan Katolik. Biasanya sekitar 40-50 an orang hadir dalam misa ini. Meskipun saya sudah bisa membaca misa dalam bahasa Jepang dengan tulisan Jepang namun saya belum diberi ijin oleh pastor paroki di sini. Namun sejak awal masa Pra-paskah 2009 ini saya diberi ijin untuk memimpin doa jalan salib di paroki yaitu di kapel kecil gereja Shimasaki ini dalam bahasa Jepang. Namun karena umat sibuk dan tidak banyak berdevosi dengan doa jalan salib maka yang datang maksimal 5 orang dan pertama kali tidak ada yang datang jadi saya sendiri yang mendoakan doa ini sambil berlatih membaca tulisan Jepang. Inilah kenyataan yang sangat berbeda dengan pengalaman doa bersama saat saya ada di Indonesia. Maka saya tidak heran lagi kalau yang datang hari-hari terakhir ini hanya satu ibu bernama Nunobe-San (74 tahun) dan saya beruntung sekali karena ibu ini dengan baik hati mengajak saya bercakap-cakap dalam bahasa Jepang sebelum dan sesudah doa jalan salib di kapel kecil itu.
Tiap Minggu di dalam gedung gereja Shimasaki ini hanya dirayakan misa sekali yaitu jam 9 pagi ang biasa dihadiri sekitar 80 umat dan mayoritas adalah ibu-ibu lansia. Sangat jarang ada anak muda dan anak-anak kecil pun sedikit jumlahnya. Di dekat parok ini ada satu susteran FMM yang memiliki sekitar 50 suster, semuanya Jepang. Mereka juga berusia lanjut bahkan ada yang berusia 103 atau sekitar 100 tahun ada 3 orang. Tiap hari pastor kepala paroki dan satu pastor Xaverian lain, kakak kelas saya dari Brasil yang berada di tahun kedua dalam belajar bahasa Jepang secara bergiliran memimpin misa harian di susteran FMM itu. Tiap Selasa saya mendampingi pastor kepala paroki untuk misa harian itu namun saya masih menjadi konselebran yang “membisu” karena belum diperkenankan untuk membaca bagian misa. Semuanya saya jalankan dengan penuh semangat dan ketaatan apa pun yang diminta oleh pimpinan.
Beberapa hari lalu saya ikut berpartisipasi dalam kegiatan anak muda di paroki ini yaitu berjalan kaki dari gereja selama 15 menit ke satu tempat lebih tinggi yaitu dekat kuburan Katolik di Kumamoto untuk merayakan misa. Mereka adalah anak-anak SMP dan SMA berjumlah 5 orang. Sepanjang jalan saya memberanikan diri untuk bercakap-cakap dengan mereka dalam bahasa Jepang. Sungguh suatu pengalaman yang sangat indah bisa bicara dengan anak muda Jepang karena selama ini saya sudah mencoba berbicara dengan umat ibu-ibu lansia setelah misa Minggu usai. Saya tidak malu dan segan untuk mengeluarkan perbendaharaan kata dan kalimat yang sudah saya pelajari dari sekolah atau saya pelajari sendiri. Kalau saya tidak tahu saya bertanya kepada mereka dan mereka pun tidak segan-segan mengoreksi saya.
Pengalaman yang indah lain adalah saya ditawari ikut berpartisipasi dalam lomba atau rekreasi sepeda di Beppu di awal Mei 2009 nanti oleh satu pastor Xaverian lain yaitu P. Fedele Ceruti, S.X. Seorang Jepang, teman pastor ini yang mengajak saya untuk turut lomba naik sepeda ini. Dalam dua bulan terakhir ini saya bicara lewat telepon dan juga email dengan Giuliano-San (Katolik) ini dan dia yang sangat baik sesuai kesan Pastor Ceruti dan saya sendiri meskipun belum berjumpa sendiri, telah menyiapkan sepeda dia untuk saya pakai dalam lomba funbike ini dan juga hotel yang sudah dia pesan baik di Beppu maupun di Oita. Saya berencana pergi sendiri ke Beppu dari Kumamoto hari Sabtu, 2 Mei 2009 dengan membawa sepeda lipat saya yaitu naik bis sekitar 4,5 jam
.

Saturday, December 27, 2008

Natal 2008 di Kumamoto, Jepang Selatan

Natal 2008 di Kota Kumamoto, Jepang Selatan
Oleh Alexander Denny Wahyudi, s.x.

Berikut ini sedikit laporan dan sharing pengalaman saya sebagai misionaris yang baru saja tinggal di Jepang selama hampir lima bulan ini. Saya menceritakan apa yang terjadi dalam suasana natal di ketiga paroki di Kumamoto yang sempat saya ikuti dalam perayaan natal tahun ini. Ketiga paroki itu adalah Shimasaki di mana saya tinggal, lalu Gereja Tettori di pusat Kota Kumamoto dan Gereja Musashigaoka yang terletak di pinggiran kota.

Suasana Natal di tahun 2008 di beberapa paroki di sekitar Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang Selatan sungguh memberikan kesan tersendiri bagi saya pribadi yang baru memulai hidup di tanah misi sebagai seorang misionaris. Tidak seperti di negeri kita Indonesia tercinta terutama di kota-kota besar seperti Jakarta di mana perayaan Natal selalu dihadiri banyak umat Katolik sampai di luar gedung gereja, di Jepang setidaknya dalam pengalaman pertama Natal di kota kecil seperti Kumamoto ini tidak banyak umat yang berlimpah memenuhi gereja. Memang jumlah umat yang datang saat misa Natal di gereja Shimasaki, Kumamoto tempat saya tinggal sekarang ini lebih banyak dibandingkan misa Minggu biasa. Bahkan mereka yang datang ke misa malam natal tunggal pukul 19.00 ini banyak yang bukan Katolik. Misa tunggal hari Minggu biasa tiap jam 9 pagi biasanya dihadiri sekitar 80 umat dan mayoritas ibu-ibu senior alias lansia namun sekali setahun gedung gereja yang berbentuk mirip UFO dari luar ini (berbentuk bundar) saat natal dipenuhi oleh banyak pendatang baru. Bahkan tim kor yang menyumbangkan lagu dengan gaya professional mereka yang terdiri dari bapak-bapak senior itu semuanya bukan Katolik namun mereka dengan semangat menyanyikan lagu-lagu Katolik baik dalam bahasa Latin maupun bahasa Jepang dengan merdunya. Mereka berjumlah sekitar 20 orang.

Misa malam natal ini diawali dengan perarakan oleh pastor paroki, Danilo Marchetto,sx yang sudah menjadi misionaris di Jepang selama 20 tahun bersama beberapa anak dengan berpakaian ala zaman Yesus yang memberikan gambaran sebagai Maria, Yosef dan beberapa gembala. Dalam perarakan di awal misa ini mereka mempersembahkan bayi Yesus di kandang gua natal yang berada di depan samping kanan altar. Lalu dilanjutkan dengan perayaan misa natal yang berlangsung selama 1,5 jam. Umat yang hadir berjumlah sekitar 300 orang. Dalam doa umat anak-anak yang turut dalam perarakan ini membacakan doa satu-persatu dari tempat duduk mereka. Secara umum perarakan natal ini tidak berbeda dengan misa natal lain di Indonesia. Hal yang membedakan adalah bahasa yang baru untuk saya yaitu bahasa Jepang. Dalam misa minggu biasa yang memberikan komuni biasanya hanya satu pastor atau dua pastor namun dalam misa natal ini kami bertiga turut bertugas membagikan komuni. Anak-anak kecil dan orang dewasa yang belum dibaptis pun mereka turut maju ke depan untuk menerima berkat dari pastor termasuk para anggota kor yang berpakaian jas hitam.

Setelah misa selesai, perayaan kebersamaan dilanjutkan dengan makan bersama di aula paroki dekat gereja yang diawali dengan “Kanpai” yaitu cheers dengan mengangkat gelas minuman masing-masing yang menjadi tanda selamat natal bagi semuanya. “Kurisumasu omedetou gozaimasu” (selamat natal) yang diawali oleh Matsumoto-San sebagai tokoh Katolik di paroki yang sebelumnya digembalakan oleh Misionaris Columban asal Irlandia dan sekarang dilayani oleh Misionaris Xaverian. Selanjutnya santap malam dengan model prasmanan atau standing party dengan menu sushi bar yang dipersiapkan oleh ibu-ibu paroki yang bekerja dengan penuh dedikasi. Karena banyak umat yang hadir dalam misa dan perayaan ini baru pertama kali berjumpa dengan saya maka beberapa dari mereka banyak menyapa dan bertanya kepada saya dengan keterbatasan bahasa Jepang yang sudah saya pelajari. Meskipun bahasa masih menjadi penghalang utama bagi saya untuk berkomunikasi dengan umat namun saya merasakan keterbukaan dan keramahtamahan umat dalam menerima kami sebagai gembala. Beberapa anak yang turut ambil bagian dalam perayaan bersama ini turut bergembira bersama saya dengan foto bersama dan sesekali saya memberikan salam dan bertanya sedikit seputar nama dan sekolah mereka. Setelah makan malam bersama ini selesai maka perayaan natal pun selesai, satu per satu umat kembali ke rumah mereka masing-masing. Di hari Natal 25 Desember di gedung gereja Shimasaki, Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus ini tidak lagi dirayakan misa namun misa pukul 7 pagi dirayakan di kapel biara suster FMM yang memiliki sekitar 50 suster lansia yang tidak dapat datang ke gereja malam natal sebelumnya.

Di Kota Kumamoto ini ada satu paroki lain yang lebih besar dan terletak di tengah kota di mana banyak dijumpai pusat bisnis dan hotel. Gereja ini jauh lebih tua dibandingkan gereja di Shimasaki yang berjarak sekitar 3 kilometer. Gereja Tettori yang berusia lebih dari 100 tahun dan digembalakan oleh seorang imam diosesan Keuskupan Fukuoka ini merayakan misa malam natal dua kali yaitu jam 19.00 dan 22.00. Lalu, di hari Natal tanggal 25 Desember pukul 10.00 dirayakan misa natal di mana gedung gereja nampak penuh dengan misa pembaptisan seorang ibu lansia dan seorang bayi. Misa dirayakan dalam bahasa Jepang dan nampak banyak ibu-ibu lansia dengan kerudung putih saat misa sebagai tradisi gereja Katolik Jepang. Satu hal yang menarik dalam misa di Tettori ini adalah ada satu suster yang menjadi juru penerjemah dalam bahasa tubuh bagi umat tuna rungu dan tuna wicara. Sepanjang misa berlangsung bahkan dalam saat menyanyikan lagu-lagu misa pun suster ini terus berbicara dalam bahasa tubuhnya sebagai pelayanan bagi saudara-saudari yang tidak mampun mendengar dengan telinga namun mampu melihat dan mendengar dengan suara hati mereka.

Sekitar delapan kilometer dari Gereja Tettori ada lagi satu gereja Katolik yaitu di daerah bernama Musashigaoka di mana Pastor Renato Filippini,s.x. (39 tahun) asal Italia melayani sebagai gembala dalam tiga tahun terakhir ini. Gereja ini lebih mungil dibandingkan dua gereja di atas namun umat Katolik Jepang yang ada banyak keluarga muda. Di gedung gereja inilah saya tiap bulan melayani misa berbahasa Inggris yang kebanyakan diikuti oleh ibu-ibu muda asal Philipina yang menikah dengan orang Jepang dan biasanya suami mereka bukanlah Katolik. Dalam misa bahasa Inggris (selalu dalam minggu ketiga) bulan Desember ini dihadiri sekitar 50 umat termasuk anak-anak mereka. Setelah misa mereka merayakan natal bersama dengan permainan dan makan siang bersama yang berlangsung pula di dalam gedung gereja ini dengan terlebih dahulu ditutup dengan pintu pembatas antar altar dan gedung gereja yang berkapasitas sekitar 120 umat ini. Lain dengan dua gereja di atas yaitu Shimasaki dan Tettori, di gereja Musashigaoka ini umat yang masuk dalam gereja harus menanggalkan alas kaki dan memakai sandal yang tersedia di depan gereja. Hal ini menjadi tradisi Jepang yang masih dipelihara di gereja ini. Umat Philipina ini diundang pula untuk merayakan misa natal bersama umat Jepang lainnya di baik misa malam natal maupun di tanggal 25 Desember dengan tujuan agar persatuan antar mereka sebagai umat Katolik terwujud kendati berbeda budaya dan asal-usul. Demikian ditekankan Pastor Renato,s.x. sebagai kepala paroki Musashigaoka. Bahkan di bulan Januari nanti umat Philipina diundang untuk datang ke misa bersama suami mereka yang tidak beragama Katolik sebagai perkenalan awal bagi orang Jepang yang bukan Katolik itu, bukan untuk mengajak mereka menjadi Katolik namun turut merangkul mereka sebagai bagian dari perkumpulan dan kegiatan-kegiatan mereka.

Satu hal yang disayangkan tidak terjadi adalah saat misa malam natal di Shimasaki yang dihadiri sekitar 300 umat dengan konselebrasi 4 imam, pastor kepala paroki, Danilo Marchetto, s.x. tidak memperkenalkan kepada umat tentang siapa kami bertiga imam muda yang baru saja tinggal di Jepang selama hampir 5 bulan dan setahun lebih. Kami bertiga sedang belajar bahasa Jepang di YWCA Kumamoto. Kami adalah P. Michel da Rocha, sx (31 tahun) asal Brasil, P. Felipe Lopez Orozco,sx (36 tahun) dari Mexico dan saya sendiri, P. Denny Wahyudi,sx asal Indonesia. Namun demikian saat setelah misa kami memiliki kesempatan untuk beramah-tamah dengan umat dengan modal bahasa Jepang yang sudah kami dapat dari sekolah.

Dalam pembicaraan dengan beberapa pastor Xaverian yang berkarya di daerah Kyushu ini, saya mendapatkan kesan bahwa kepenuhan dan target karya kerasulan mereka tidak berdasarkan pada kuantitas umat yang datang ke gereja namun lebih pada kualitas. Memang sulit bermisi di Jepang kalau mengandalkan jumlah umat dan baptisan karena banyak gereja yang berukuran mini dalam kuantitas seperti satu lingkungan kecil di satu paroki besar di Jakarta misalnya. Bahkan 10-50 orang saja saat misa hari Minggu. Itulah tantangan hidup mengereja di Jepang ini yang memiliki jumlah umat Katolik sekitar 450 ribu orang Jepang dan setengah juta Katolik orang asing yang berasal dari Brasil, Mexico, Peru, Philipina dan juga Indonesia di kota-kota besar seperti Osaka, Tokyo dan Nagoya.

Wednesday, December 19, 2007

Riwayat Hidup dan Panggilan Romo Denny Wahyudi, SX

Riwayat Hidup
ROMO ALEXANDER DENNY WAHYUDI, SX

“Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan,
maka terlaksanalah segala rencanamu” (Amsal 16:3)

- Lahir di Madiun, 24 November 1974 dari pasangan Bapak Johnny Indrata dan (Almarhumah) Ana Maria Indrawati di Rumah Sakit Katolik Panti Bagija, Madiun yang dikelola oleh para Suster Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus (M.C.). Denny adalah anak ketiga dari lima bersaudara.
- 1979-1981: pernah bersekolah di TK Kristen Widya Wacana Solo, TK Katolik Marsudirini Solo, dan lulus di TK Bernardus (ditangani oleh para suster Ursulin, OSU) Madiun, Jawa Timur.
- 1981 – 1987: SD Katolik Santo Yusuf (dijalankan oleh para bruder Santo Aloysius, CSA) Madiun
- 1987 – 1990: SMP Negeri 2 Madiun
- 1988 – 1990: menjalani masa katekumenat di Novisiat Suster Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus (M.C.), Jalan Mundu, Madiun, Jawa Timur.
- 24 Desember 1990: dibaptis Katolik di Gereja Santo Cornelius, Madiun oleh Pastor Sebastiano Fornasari, C.M.
- 1990 – 1993: SMA Negeri 2 Madiun
- Agustus 1993 – Desember 1993: bekerja di Rapico Foto, Menteng dan Adorama Foto, Jalan Kemang Raya, Jakarta
- Januari 1994 – Mei 1996: bekerja di P.T. Surya Pertiwi (TOTO), Jalan Pinangsia dan Jalan Tomang Raya, Jakarta
- Agustus 1996 – Mei 1997: Pra-Novisiat Serikat Misionaris Xaverian di Bintaro, Jakarta. Menjalankan kerasulan Sekolah Bina Iman Anak-anak di Paroki Keluarga Kudus, Pasar Minggu, Jakarta.
- Juli 1997 – Juni 1998: Novisiat Xaverian di Bintaro, Jakarta. Menjalankan kerasulan di SSP Paroki Santo Thomas Rasul, Bojong Indah dan Sekolah Bina Iman Anak-anak di Paroki Keluarga Kudus, Pasar Minggu, Jakarta.
- 21 Juni 1998: mengikrarkan kaul pertama
- 1998 – 2002: studi filsafat di STF Driyarkara, Jakarta. Menjalankan kerasulan mendampingi katekumen Universitas Bina Nusantara Jakarta, katekumen di Paroki Santo Petrus Paulus Mangga Besar Jakarta, Dialog Antar Agama, dan mengajar agama di SMP Negeri 4 Jakarta, SMA Negeri 2 Jakarta dan SMA Negeri 5 Jakarta.
- November 2002 – Agustus 2003: belajar bahasa Inggris di ESL Program Sacred Heart School of Theology di Hales Corners, Wisconsin, Amerika Serikat.
- September 2003 – Mei 2007: studi teologi program Master of Divinity (M.Div) dan Master of Arts (MA bidang spiritualitas) di Catholic Theological Union (CTU) Chicago, Amerika Serikat.
- 6 Mei 2006: mengikrarkan kaul-kaul kekal di Komunitas Xaverian, Franklin, Wisconsin, Amerika Serikat.
- 14 Mei 2006: ditahbiskan diakon oleh Bishop John R. Gorman di Gereja Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, Chinatown, Chicago, Amerika Serikat.
- 4 September 2006 – 4 Juni 2007: menjalankan pastoral diakonat di Gereja Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, Chinatown, Chicago, Amerika Serikat.
- 15 Agustus 2007: ditahbiskan imam di Gereja Santo Mateus, Bintaro, Jakarta oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J.

Sungguh besar kasih Allah yang telah memanggil saya pada panggilan misioner di Serikat Misionaris Xaverian. Betapa tidak, saya yang baru saja dibaptis di kelas satu SMA, secara cepat merasakan getar-getar panggilan dalam hati setelah aktif di kegiatan doa-doa lingkungan, Mudika dan ziarah paroki. Keinginan tahuan yang besar akan panggilan menjadi imam ini terjawab dengan membaca majalah Katolik HIDUP saat doa rosario di ketua lingkungan Kejuron, Bapak Budiman waktu itu. Di situlah saya menemukan Serikat Misionaris Xaverian dan langsung saya menulis surat ke Yogya, yaitu promotor panggilan bernama Pastor Silvano Laurenzi, S.X. Korespondensi yang teratur menjawab segala pertanyaan saya tentang seluk-beluk menjadi seorang imam Xaverian. Saya merasakan kehangatan yang mendalam saat bertemu pastor yang penuh semangat ini pertama kali di Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Kidul Loji, Yogyakarta, saat nenek saya dirawat di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Sejak saat itu saya memproyeksikan diri saya dengan kehidupan seorang frater Xaverian yang sering kubaca di Warta Xaverian. Setiap kali menerima Warta ini saya baca berulang kali serasa saya menjadi bagiannya. Tidak heran saya mengenal banyak nama frater dan mantan frater Xaverian yang menjalani pendidikan di Jakarta ini meskipun saya tidak pernah bertemu mereka. Saya pun dengan tekun mengikuti perkembangan mereka hingga suatu saat saya dapat menghadiri satu buah sulung tahbisan Xaverian pertama Indonesia di Gereja Mlati, Yogyakarta, yaitu Romo Albertus Priyono, S.X. di bulan Oktober 1995. Saat itu saya sengaja cuti dari kantor untuk menghadirinya. Memang saya selulus SMA tidak langsung masuk Xaverian karena keluarga saya masih belum setuju, maka saya bekerja dulu di Jakarta selama tiga tahun. Pengalaman bekerja di Jakarta ini memberikan waktu cukup bagi saya untuk berpikir dan menimbang yang akhirnya memutuskan: YA, saya bersedia masuk dan ikut tes. Saya mengikuti tes psikologi, tes masuk STF Driyarkara dan wawancara di bulan Februari 1996 di Bintaro, setelah beberapa kali bimbingan pribadi dengan Pastor Nico Macina, S.X. di Wisma Xaverian, Cempaka Putih. Saya diperkenankan langsung melamar ke Xaverian tanpa harus masuk KPA di seminari menengah. Rupanya saya sungguh didukung oleh Pastor Laurenzi. Akhirnya saya diterima masuk Pra-Novisiat di Bintaro yang sudah selama ini saya sering memantau tempat dan pembangunan gedung barunya. Saat itu kami berjumlah 15 orang dan saya adalah satu-satunya yang bukan berasal dari seminari. Sering kali teman-teman bercanda bahwa saya berasal dari “Seminari TOTO” karena memang saya bekerja di perusahaan ini selama 2,5 tahun. Hari demi hari saya jalani dengan penuh antusias, jatuh-bangun, dengan suka-duka yang memberikan makna mendalam dalam hidup saya pribadi.
Keluarga saya yang dulunya melarang saya untuk menjadi imam, sedikit demi sedikit mereka menerima dan sangat bangga. Saya yakin dukungan dan tantangan dari semua pihak memberikan dinamika tersendiri dalam menjalani hidup panggilan mulia ini. Saya memiliki keyakinan yang besar dan sekaligus berpasrah kepada kehendak Allah atas masa depan panggilan ini. Saya menyadari panggilan ini tidak mudah, maka motto awal saya ketika masuk Xaverian adalah: “Barangsiapa ingin mengikuti Aku, ia harus menyangkal diri, memanggul salib setiap hari dan mengikuti Aku” (Lukas 9:23). Selain salib dan penyangkalan diri, banyak rahmat yang begitu besar yang boleh saya terima dengan syukur. Rahmat yang bagi saya teramat besar, tidak terpikirkan sebelumnya. Contohnya: kesempatan emas yang diberikan Serikat Xaverian bagi saya untuk menjalani studi teologi di Chicago, Amerika Serikat senantiasa mengingatkan saya untuk terus bersyukur dan bersemangat dalam jalan ini dengan penuh kesetiaan seumur hidup. Saya berpikir bahwa saya pribadi tidak akan dapat dan mampu pergi ke luar negeri apalagi studi tinggi apabila saya tidak menjadi anggota Serikat ini. Kendati banyak tantangan yang saya hadapi baik di Indonesia maupun di Amerika Serikat namun semuanya itu indah pada akhirnya, karena “segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberikan kekuatan padaku” (Filipi 4:13).
Akhirnya saya mampu berkata bahwa panggilan menjadi imam misionaris Xaverian sungguh jodoh saya karena dalam waktu 11 tahun ini banyak kejadian yang tidak terduga oleh pemikiran manusia belaka menjadi kenyataan. Ada yang masuk dan ada banyak pula yang keluar. Saya patut bersyukur dan berbangga hati karena angkatan saya yang berjumlah 15 di awal masa pembinaan, sekarang masih berjumlah lima. Tiga diantarnya ditahbiskan imam bersama hari ini yaitu Utomo, Dharmawan dan saya sendiri. Dua lainnya yaitu Marsel dari Toraja yang sedang belajar teologi di Manila akan menyusul di tahun depan dan Made dari Bali yang menjalankan studi teologi di Mexico City akan mencapai tahap ini dua tahun ke depan. Saya persembahkan doa-doa dan rasa syukur saya untuk mereka berdua dan semua adik-adik kelas saya yang sedang menjalani proses panggilan ini. Tak lupa saya berdoa bagi semua rekan saya yang telah menjalani hidup di luar sebagai awam. Semoga kalian semua tetap menjadi “Xaverian” dalam hati dan realita hidup sehari-hari, menjadi garam dan terang bagi sesama di sekitar kita. Saya turut berterima kasih kepada Serikat Xaverian, para pembina, karyawan-karyawati di rumah-rumah Xaverian, guru-guru dan dosen-dosen kami, keluarga, sahabat, segenap panitia tahbisan imamat ini yang telah bekerja keras, para imam yang hadir saat ini dan umat sekalian, Bapak Uskup Agung Jakarta dan semua yang telah memberikan warna tersendiri dalam hidup dan kehidupan saya. Cinta dan kasih Anda sekalian memberikan makna tertinggi dalam hidup saya yang patut terus saya syukuri dan kenangkan.
Kini saatnya saya mohon doa restu Anda sekalian untuk tahap kehidupan saya selanjutnya khususnya untuk terus setia seumur hidup menjalani misi mulia sebagai imam misionaris di Keluarga Xaverian tercinta ini, menjalankan misi saya nanti di Jepang sebagai penugasan pertama saya sebagai imam, yang didahului dengan belajar bahasa Italia di Ancona, Italia selama 6 bulan. Untuk ujud ini saya berani berseru:

“Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan,
maka terlaksanalah segala rencanamu”
(Amsal 16:3)


Friday, May 04, 2007

A Good News on Friday, May 04, 2007

A Good News of Friday, May 04, 2007 for Denny

Today is the first Friday of May in the year of 2007. After working on tiles at the basement of Saint Therese Church, helping Ben and having lunch, noodle, cooked by Father Michael, I opened my hotmail email. Finally, what I have been waiting for over the last days arrived to me. Father Ivan Marchesin, the provincial of the Xaverians in the USA sent me email and forwarded me the official letter from the General Direction of the Xaverians in Rome. It is about the confirmation of my admission to the order of priesthood and the first assignment to go to Japan. It says that I should learn some Italian in the Novitiate House of the Xaverians in Ancona, Italy starting from the end of September till the end of February 2008. By early March 2008 I should be in Japan for my destination; probably, I will stay at the provincial house of the Xaverians, In Izumisano, Osaka, where I devote my time to learn Japanese for at least two years. It means I have some five months in Italy for this special Italian learning. It's the requirement for a Xaverian destined to work in Japan since among the Xaverians themselves speaking and understanding Italian is a must. It is the dream I have projected for these last months looking forward my future. My future is in the hands of God who always nurtures and grants me the best I could ever imagine. Through my beloved "mother", the Xaverians, my religious family, I have been living my vocation and call toward this missionary priesthood. So, it's my joy to give thanks to God and all who have been influencing my life. Through the Sacred Heart of Jesus, as we celebrate today, the first Friday, and Mary, my mother, through whom I was called for the first time to this precious summon when I was young (and this is May, the month of Mary), I would remember this gracious time. It's exactly a month left before I am going back to my country, Indonesia, to prepare my priesthood ordination that will be held in our parish, Saint Matthew in Bintaro, Jakarta, on Wednesday, August 15, 2007. There will be some 8 new priests, respectively, 5 Xaverians and 3 diocesans of Jakarta. So far I know we are Ignatius, Maryono, Utomo, Denny (me), Dharmawan, and the three diocesan deacons (Kokoh, Treka, and Hari). I return to God whatever happens in the near future of my life together with others who will be ordained, I pray for all of them. Let the Holy Spirit guide us to this preparation time so that we will be good shepherds in our ministry wherever we are through entire of our lives as a life offering to God and the people whom we serve. “If anyone desires to come after me, let him deny himself, take up his cross daily and follow me” (Luke 9:23).

Here is the letter of my provincial and the General Direction:


From : Ivan Marchesin ivanmarchesin@hotmail.com

Sent : Friday, May 4, 2007 2:04 PM

To : acdw74@hotmail.com

Dear Denny,

Greetings. I am sending you this letter of confirmation by the General Direction for your Ordination to the Priesthood and your assignment to Japan.

Congratulations.

I am proud of you and am very happy for this great grace God is giving you. God is calling you not only to act in the name of Jesus. There is more. God is asking you be Jesus, visible, loving, acting, compassionate, beautiful in everything you do and wherever you go. As Jesus was always the visible presence of the Father, so are you to be always the visible presence of Jesus: Jesus who is ever giving his life for the life of the world.

Search all the heavens and the earth, and you will never find anything more beautiful and demanding than you call and vocation. Be happy. Be grateful.

I assure you my prayer and my unity. We share the same call and the same vocation. Together we thank God and Mary for the gift of our Priesthood and of our missionary call.

Gratefully and most respectfully, Yours,

Fr. Ivan Marchesin, s,x,

Rome, 3 May 2007

Feast of the Apostles Philip and James

Deacon Denny Wahyudi Alexander

Xaverian International Theology Community

Chicago

USA

Re: Confirmation of Admission to the Priesthood and Assignment

Dear Denny,

during the General Council of 2 May, the Superior General confirmed your Admission to the Priesthood and, at the same time, assigned you to the Region of Japan.

Together with our congratulations, we assure you of our prayers for your priestly ministry which, from now on, will mark your life at the service of the Church and the Mission.

After your Ordination you shall have one month to spend with your family and relatives in Indonesia.

You should be in Italy by the end of September to study some Italian, in accordance with the requirements of the Japanese Region. We think that you could do this study in the Novitiate House of Ancona. We shall inform the Regional Superior of Italy. The study period shall last until the end of February 2008 so that you may be in Japan by the first days of March 2008.

During this period you should establish and maintain contact with the Regional Superior of Japan to begin the necessary application process for an entry visa; it should be possible to do this through the Indonesian Embassy in Italy.

We think that you should go directly from Italy to Japan, without returning to Indonesia.

Should any problems arise, you shall discuss them with the new General Direction.

We entrust your new commitments to Our Lady that She may protect and guide you.

Fr.Luigi Menegazzo

Copies to:

Fr. I. Marchesin, Regional Superior, USA

Fr. PG. Manni, Regional Superior, JP

Fr. V. Baravalle, Regional Superior, ID

Fr. C. Pozzobon, Regional Superior, IT





Wednesday, March 01, 2006

Kabar Gembira dari DG SX di Roma buatku

Kabar gembira dari Roma buatku, 21 February 2006
Hari ini hari Selasa, 21 Februari 2006. Di pagi hari jam 10.10 saat aku membaca bacaan untuk kuliah hari Kamis, aku menerima telepon dari Pastor Provinsial SX di USA, Father Ivan Marchesin. Beliau memberitahukan secara resmi padaku bahwa permohonan kaul kekal dan diakonatku telah dikabulkan oleh Direksi General SX di Roma....sungguh gembira rasanya dan plong mendengarkan kabar ini. Dia forward e-mail dari wakil superior general sx, Father Luigi Menegazzo lalu aku abadikan di blog ini. Berita gembira yang sama di bawah ini bahwa aku akan diutus ke Jepang sebagai misionaris setelah aku ditahbiskan jadi pastor mungkin pertengahan tahun 2007 di Indonesia. Berkat dan rahmat Tuhan begitu besar, aku hanya bisa bersujud di kamarku dan mengucap syukur atas berita gembira ini seraya memanjatkan doa dan pujianku pada Dia yang telah memanggilku. Dengan "kidung Magnificat" aku bersujud di hadirat Yang Maha Kasih. Ini surat resmi dari Roma yang menjadi kenangan tersendiri bagiku....Salam dan doaku untuk negeri Sakura yang menjadi impianku....Sedianya aku akan kaul kekal di komunitas SX di Franklin-Wisconsin pada 6 Mei sore 2006 lalu tahbisan diakonat di Gereja St. Therese Chinatown Chicago tanggal 14 Mei 2006. Kutunggu hari-hari penuh harapan di bulan Mei dari kaul kekal, tahbisan diakonat, wisuda M.Div dari CTU (18 Mei) lalu sakramen krisma untuk ke-6 anak didiku di St. Therese Church Chinatown Chicago (28 Mei) lalu 29 Mei aku bisa liburan ke Indonesia bersama Dharmawan. Kabar gembira lain yaitu aku dah dapat tiket JAL tuk liburan ke Indonesia dari 29 Mei hingga 21 Agustus 2006...jadinya yah 12 minggu persis.

Tanda terima kasihku buat Tuhan dan Bunda Maria yang terus menjagaku:
Denny Wahyudi, SX


Rome, 20 February 2006


DENNY WAHYUDI ALEXANDER
International Theology
CHICAGO, ILUSA

Re: Admission to Final Profession and Diaconate

Dear Denny Wahyudi,

I am very happy to inform you that, during session no. 26 of the General Council, the Superior General, with the favorable opinion of his Councilors, admitted you to the Final Profession in our Congregation. He also confirmed your admission to the Order of Deacon.

Together with our congratulations on this very important occasion in your life, we also wish to assure you of our prayers. May your final Consecration find you always faithful and may the Ministry of deacon bear witness to your consecration. In becoming a Minister to God’s People you must always be an example and encouragement to them. Always be faithful to the solemn and public promise to pray the daily Liturgy of the Hours in its entirety. You are a man of prayer and through prayer you will become pastor of the people and a messenger of Christ.

Draw up a plan, in dialogue with your Regional Superior, that will ensure you have an intense experience of the Diaconate; you should also begin to plan the time of your Ordination to the Priesthood.The Superior General, having learned of your desire to work in Japan, discussed the matter with the Councilors and is oriented towards assigning you to this mission immediately after your Ordination to the Priesthood. The final assignment will be made when you are admitted to the Priesthood.

We entrust this very solemn and important moment of your life to Our Blessed Lady, who has always guided and protected you.Fr. Luigi Menegazzo

Copy to:
Fr. I. Marchesin, Regional Superior, USA
Fr. V. Baravalle, Superior Delegate, Indonesia

KABAR GEMBIRA DARI DG SX DI ROMA BUATKU

Kabar gembira dari Roma buatku, 21 February 2006
Hari ini hari Selasa, 21 Februari 2006. Di pagi hari jam 10.10 saat aku membaca bacaan untuk kuliah hari Kamis, aku menerima telepon dari Pastor Provinsial SX di USA, Father Ivan Marchesin. Beliau memberitahukan secara resmi padaku bahwa permohonan kaul kekal dan diakonatku telah dikabulkan oleh Direksi General SX di Roma....sungguh gembira rasanya dan plong mendengarkan kabar ini. Dia forward e-mail dari wakil superior general sx, Father Luigi Menegazzo lalu aku abadikan di blog ini. Berita gembira yang sama di bawah ini bahwa aku akan diutus ke Jepang sebagai misionaris setelah aku ditahbiskan jadi pastor mungkin pertengahan tahun 2007 di Indonesia. Berkat dan rahmat Tuhan begitu besar, aku hanya bisa bersujud di kamarku dan mengucap syukur atas berita gembira ini seraya memanjatkan doa dan pujianku pada Dia yang telah memanggilku. Dengan "kidung Magnificat" aku bersujud di hadirat Yang Maha Kasih. Ini surat resmi dari Roma yang menjadi kenangan tersendiri bagiku....Salam dan doaku untuk negeri Sakura yang menjadi impianku....Sedianya aku akan kaul kekal di komunitas SX di Franklin-Wisconsin pada 6 Mei sore 2006 lalu tahbisan diakonat di Gereja St. Therese Chinatown Chicago tanggal 14 Mei 2006. Kutunggu hari-hari penuh harapan di bulan Mei dari kaul kekal, tahbisan diakonat, wisuda M.Div dari CTU (18 Mei) lalu sakramen krisma untuk ke-6 anak didikku di St. Therese Church Chinatown Chicago (28 Mei) lalu 29 Mei aku bisa liburan ke Indonesia bersama Dharmawan. Kabar gembira lain yaitu aku dah dapat tiket JAL tuk liburan ke Indonesia dari 29 Mei hingga 21 Agustus 2006...jadinya yah 12 minggu persis.

Tanda terima kasihku buat Tuhan dan Bunda Maria yang terus menjagaku:
Denny Wahyudi, SX

Rome, 20 February 2006

DENNY WAHYUDI ALEXANDER
International Theology
CHICAGO, ILUSA

Re: Admission to Final Profession and Diaconate

Dear Denny Wahyudi,

I am very happy to inform you that, during session no. 26 of the General Council, the Superior General, with the favorable opinion of his Councilors, admitted you to the Final Profession in our Congregation. He also confirmed your admission to the Order of Deacon.

Together with our congratulations on this very important occasion in your life, we also wish to assure you of our prayers. May your final Consecration find you always faithful and may the Ministry of deacon bear witness to your consecration. In becoming a Minister to God’s People you must always be an example and encouragement to them. Always be faithful to the solemn and public promise to pray the daily Liturgy of the Hours in its entirety. You are a man of prayer and through prayer you will become pastor of the people and a messenger of Christ.

Draw up a plan, in dialogue with your Regional Superior, that will ensure you have an intense experience of the Diaconate; you should also begin to plan the time of your Ordination to the Priesthood.

The Superior General, having learned of your desire to work in Japan, discussed the matter with the Councilors and is oriented towards assigning you to this mission immediately after your Ordination to the Priesthood. The final assignment will be made when you are admitted to the Priesthood.

We entrust this very solemn and important moment of your life to Our Blessed Lady, who has always guided and protected you.

Fr. Luigi Menegazzo


Copy to:
Fr. I. Marchesin, Regional Superior, USA
Fr. V. Baravalle, Superior Delegate, Indonesia

“Only the good and rational person
is capable of true friendship,
for reason stirs up and nourishes friendship”
(Francis DeSales)

Alexander Denny Wahyudi, sx
Xaverian Missionaries
1347 East Hyde Park Boulevard
Chicago, Illinois 60615-2924
Phone 773 643 5745
Fax 773 643 6907
Website:
http://www.xaviermissionaries.org and
http://acdw74.blogspot.com and
http://acdw74.multiply.comand and
http://www.xaverindo.org and
http://dennywahyudi.blogspot.com

Friday, June 03, 2005

4th Sunday in Ordinary Time, January 30, 2005

5) 4th Sunday in Ordinary Time, January 30, 2005

Monday, January 24, 2004. “We must make no compromise with a love that is contrary to the love of God” (Francis de Sales).

We heard of mourning news that the oldest brother of Father Willy Mukucha, SX named Leopold passed away because of his sickness in Canada. We all pray for him and his family in R.D. Congo.

On Friday January 28th I attended the last class of Human Sexual Development for Ministry at CTU in which I submitted my 10-page final paper and I would like to share to you as well. In the closing prayer at the last class we uttered our ‘erotic prayer’ and here I expressed my own prayer in the beginning of this paper.

HEALTHY HUMAN SEXUAL DEVELOPMENT FOR MINISTRY (I-4010)
J-Term 2005
O God, your are untouchable by my human senses
But you can be touched by our mind and words.

In inception you created me with loving touch of both of my parents
In inception you created me with genital touch of my father and mother
In inception you created me out of human passion and intercourse
In inception you created me through penetration and ejaculation
In inception you created me with union of her ovum and his sperm.

I commend to your compassionate touch:
My sexual awakening,
My sexual identity as a male,
My sexual commitment as a celibate person.

At the same time I commend to you:
My spiritual awakening
My spiritual identity
My spiritual commitment,
In union with you and others toward Healthy Human Sexual Development
Through Christ, our Master of Love and Compassion.
Amen.


1. How has my culture shaped my experiences and understanding of sexuality?
I was born and raised in East Java, Indonesia by a Chinese descent family who have already lived and adapted in local Javanese culture from a number of generations. In my family, my parents never talked about sex and sexuality to me because probably they considered that this issue is only for adult people and we will come to know about it when we are becoming adult. It is influenced so much of our local culture that talking about sex especially to the children is a taboo and shameful thing. It is only appropriately talked by adult persons and between a married-couple. Even my parents as I remember, never gave me advice about relationship to other gender as I grew up in high school. I came to know about sex and sexuality from my own searching, my self-discovery from newspaper, books and magazines. In the age of puberty, I was sometimes still confused and questioning about my own mysterious libido that I found out the answer from the wide-opened information in mass media. I felt ashamed also when somebody talking about this issue and I never raised the questions to competent persons.

In my own family, the greeting between our family members never expressed by touching each other, even I never embracing or shaking hand to my father, grandmother and siblings after so long time we did not meet each other. I never reflected deeply about this case but I ever read one article that some general culture among the Chinese descendants in Indonesia having such a custom. This influenced my way to relate others in school and society. Normally, I keep very strict boundaries to other gender in the relationship. The normal way to greet others in my own culture is shaking hand but never embracing each other.

Since in the kindergarten and primary school, gathering with other gender friends is a shameful way. It created a custom that I had to make friendship to my own gender, boys. Most of my close friends were boys and apparently I never had female friends in my house despite my own shyness attitude. At primary school normally we sit with the same gender friend and very seldom we sit with other gender friend. Once I sit with a female friend, I felt very uncomfortable and too cautious keeping boundaries especially in secondary high school.

Even though it seems that sexuality is taboo but in the society especially in mass media such as movie, film and advertisement, we can see daily performance that tends to sex and vulgar relationship between man and woman. It makes many children more curious to know about sex and sexuality without taken care by the parents and adult persons. The information that I got was ranging from positive to negative teachings and sometimes ambiguous and I did not know which one the right according to the norm of my Catholic religion. One major thing that probably makes me think and reflect is self-pleasure such as masturbation. It is struck me when I found that there are some different approaches and arguments regard to this issue in the traditional Catholic teaching and other modern thinkers. Some consider it as mortal sin and others as venial sin and one author says it is not sin. “Masturbation is not a sign of the perfection we as celibates strive to live; neither is it sin. It is simply imperfection-that which we all are and yet strive to overcome” (Donald Goergen, The Sexual Celibate, p. 203). Some myths about this disorder sexual custom in Indonesia influenced also my understanding about sexuality.

Since I have lived in the USA I have to adjust the custom and culture of embracing and hugging each other in friendship. When I saw this Western culture when I was in Indonesia, I wondered how I could adjust this custom. In my ministry at a retreat house as my Ministry Practicum I from CTU dealing with teenagers, I was struck by the relationship of girls and boys the retreatans who mostly the Caucasians. Among boys and girls, they have very close physical relationship as if there is no boundary. It never happened in my experience as a teenager in Indonesia. It somehow makes me appalled and jealous. As a minister among them, I should adjust theirs custom. Recently, after finishing the weekend retreat, at the closing prayer, some of the girls, the retreatans expressed their gratitude and peace to me with hugging and embracing. It made me being accepted by them and the gesture that I practiced was simply responding their first initiative to hug me then I opened to their gesture. Even though I have been living in the USA for two years but this gesture to hug and to be hugged especially with other gender still sometimes makes me feel little bit strange since it is not my custom in Indonesia. At the same time I feel good to touch and to be touched by others. One principle that I do agree and I have practice it in my ministry is “Touch is to be used in ministry only to address the needs of the person the religious is assisting, not to meet the needs of the religious” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).

In regard of human healthy boundary in a life of ministry, I see there is different value of one culture to another one. For example, in my country Indonesia, getting along with children at primary school (the picture below) such as my experience as I visited them before I departed to the USA is an acceptable manner. But, I do not think in the USA it can be practiced easily like in Indonesia, instead I should be cautious dealing with the children because the issue of sexual scandal of clergies. Therefore, I should be prudent on what I am doing in my ministry dealing with people, to respect local values and to be flexible in pastoral issues not to be rigid.




2. “Exploring Commitments and My Capacity for Making and Keeping Them”
I chose ‘FRIENDSHIP’ because this word recalls my experience dealing with so many people in my life as of now. Starting with my friends of close neighbors in some areas that I had been living in, namely schools, working places, my formation time in the Xaverian Missionaries, and all people whom I met during my ministry as a religious, teacher and a friend of them.

There is one special female friend who gave me a lot of meaning enduring what I have been choosing as a religious. Her care of me drew me to a certain feeling that I never had before, namely, feeling of falling in love to a girl. It put me on a threshold of my journey toward a missionary-religious-priesthood and at the same time transformed and awakened me who I am as a normal human being. In the insight of this experience, I want to try recalling my sweet memory dealing with myself in my great memorable experience to love and to be loved as a human being.

It is a really unforgettable story that I ever have in my life journey as a male being. One evening in August 2000, I attended a priesthood ordination of four priests in a Catholic Church in Jakarta-Indonesia. I have been attending a couple of times this kind of celebration since I was in High School. It is always a solemn Mass with a big celebration that I also want to experience to be one of the ordained priests someday. After the Mass lasted I met some nuns who are friends of my Xaverians confrere. They introduced me to a nice-looking girl who is their friend. Back on that day, I was very happy meeting with her while she was joking and telling me that she is a candidate of nun. I knew that she was just kidding. It was a nice day that I could ever have in my life and imagined as if she would be one of my friends. Since I did not have any idea who really she is; so my impression lasted on that day. A couple of days later, she called me up in my Xaverians philosophy house and since then she often did so. In the beginning I was so happy receiving her phone call because I never had this kind of experience that a girl friend has attention to me. In the human level, I was consoled but I was wondering with myself: how do I deal with such a feeling and my religious life. In one side, I was happy to have a girl friend that gave me attention but the other side my heart was not in peace because I have chosen a celibate-religious life. It seemed that she did call me up often times till she asked me favor to come visiting me in my Xaverians house. I welcomed her delightfully and she came with her girl friend as well. In the beginning, she told me that she wanted to know some religious orders of nuns but after she came, she never wanted to know them. I guessed she only wanted to know my life closely. After this visit, she continued calling me up almost everyday. Finally one evening she asked me help to accompany her to go to a hospital since she did not have a friend. I did not answer directly what she asked, instead I needed some time to decide it. In my prayer in the chapel, I had a fixed and clear answer to say NO to her, but after she called, I could not say NO, but saying YES. I did not know why I could not deny her hope. Probably, I already had a certain feeling and wanted to meet her again. To say that I experienced what people say, falling in love. It was a really a joyful feeling that I ever have in my life. Even though I know that I have embraced my religious life but I still had this kind of feeling, to love other that is the opposite sex. Eventually, I met her and I had mixed motivation to meet her: to help her and to meet her because she was interesting to me. First time I met her, after taking her to a hospital, she invited me to go to have lunch at a Mall. I told her that it would be a scandal if someone knows that I go with her. But, anyway, I did that while I hoped nobody would see me. In our conversation during the lunch, she tried to know my identity and I did so. Afterward, we entered a store and she bought two cassette tapes of pianists, Richard Clayderman and Sharon, a little Chinese girl pianist. I was wondering why she bought two same cassettes at a time. At the counter of cashier, she wrote on the tape her name and the date we had that time, 31 August 2000 and gave one to me. I could not deny her kindness while she said, “When you come to your house, listen to it and when you listen to it, please remember me.” In my daily lives, my mind, my heart and my dream were devoted to her. If I heard a phone ring, my heart was trembling and my affection suddenly remembering her. The second time, I accompanied her to go to a hospital to have treatment for her sickness. This time she treated me to eat noodle at a restaurant. The third and the last time, I accompanied her to have a small operation of her sickness. This time I had an initiative to exchange our pictures. The more I knew her closely, the more I wanted to remember her face in my dream and imagination. Finally, I got her picture that I could see it everyday when I had missed her.

One Sunday noon, she invited me in her friend’s birthday. We were four, namely three girls and including me. We had lunch at a Mall and I parked my bicycle in a motorcycle parking lot at the basement. After we had a good time, I went to the basement to take my bicycle. One thing happened that I never expected before, namely, my favorite bicycle, which took me to many places in Jakarta was lost. I tried to find it out but I could not get it. Somebody had stolen it. I was so depressed and sad with this experience. After a happiness I got, I had to take up a very sad moment; how contrast it was. My Xaverians confreres, who knew what I had done, most of them laughed at me. It was a big mistake that I did and really an embarrassing one.

What I could learn of this experience was: I have to be grateful that I did not lose my vocation to be a missionary-religious-priesthood, but God was still kind to me and God had a sense of humor that the lost of my bicycle reprimanded me to be careful with my relationship and my feeling toward others. Knowing my bicycle was lost, she and her friends felt sorry and I said no problem; “it’s not your fault, it’s a really tragedy, it shouldn’t bother you.” After this event, she was very seldom to call me up. In the beginning, I was feeling sad and lost of her but with time running, I could endure and accept it. My feeling of love and to be loved, little by little, was disappearing. I recalled my study that I received from my professors in my philosophy study: “To love and to be loved as a human person are the highest meaning we can draw in our life” (Franz Magnis Suseno, SJ). Another lesson of my professor is when I fall in love, as soon as possible I should stand up, awake and be aware of then to build this love in positive way. From my spiritual director I learn that to love is a commitment, not a feeling merely. This unforgettable memory strengthens my commitment to embrace my religious life even though in the beginning it cost me a lot of tension and confusion in my own personality and freedom. To be honest to myself and to others especially my formator, I told this love story both to my formators and my confreres in order to let them know who I was at that time and to ask help to endure this long-life vocation. My strength is that I could accept this moving experience as a positive lesson and to share plainly to others. In addition, to treat her and other friends as God’s people in their dignity and still keep them in my prayer that God allowed them to come into my life story.

It suggests me to be more aware that I am a man who needs care, love, attention and acceptance of others especially other gender. It makes me realized that I am a normal man who devotes myself to God’s service in a celibate way with all consequences such as loneliness, lack of love and attention of others, depression and isolated life. In my fragility as a human being, I just surrender to God’s compassion to keep me being faithful in my daily journey. When I fall down into temptation, I believe it signs me that I am a fragile human, not myself who can endure this kind of life but merely God’s love and compassion and also God’s great grace. Without God, I am nothing. My commitments to my religious life in order to ministering God’s people are full of struggle in my whole life that require a lot of patience, wisdom and daily denying of myself. In my weaknesses I commit myself to God. “If anyone desires to come after me, let him deny himself, take up his cross daily and follow me.” (Luke 9:23).

I am grateful to have this kind of experience of feeling, falling in love and to be loved by the other. I never had this experience before, so I am grateful to my friend who finally married with her chosen man. Even, with my big heart, I attended their wedding both the reception and the ceremony at a church.

Even though she never told me about her feeling and I never did so, but from her attitude, gesture and symbols that she expressed externally to me, I considered them as a symbol of love. Maybe I made a mistake to draw a meaning quickly. It is a really good experience and lesson to me to pass my crisis and threshold toward my previous way of life in the Xaverians Missionaries that I have chose freely. This experience I believe, is a message of God that challenges me whether I am still faithful to my vocation to become a religious-missionary-priest or not. With this experience, it does not mean that I will not fall again in the same case. At least, I had known what is the meaning to be loved by others and it entails me to be humble and not to take advantage for my own self. Moreover I have to surrender to God’s will, not me O God, not me, but only your love enables me to love others respectfully.

Some clues that I can enhance my ability to be with others in a committed relationship in ministry are to be honest to myself and to respect others in their dignity as human beings and do my best to love them in mutual and unconditional way. Full of compassion and forgiveness to others will cure some conflicts that may occur in the relationship. To be aware of the ministry boundaries is a wise way to relate to others in the ministry and at the same time not to be afraid in dealing with them in cooperative way as teamwork. To be authentic as I am in front of the others will help others and myself as well to know each other better.

3. Sexuality and Spirituality
In a celibate life I am enduring now the spiritual life is the core of this way of life. To be spiritual does not mean that I neglect my sexuality and my body instead I have long life duty to integrate both sexuality and spirituality. The goal of both the sexual life and spiritual life is union of the individual with God and with others. Being sexual involves many aspects of personality: affectivity, sociality, genitality, femininity, masculinity, heterosexuality, homosexuality, sexual identity and love. In the spiritual development according to Goergen there are three phases, namely, spiritual awakening, religious identity and spiritual commitment. In the parallel of this spiritual development, there is also sexual development, namely, sexual awakening, sexual identity and sexual commitment.

A sexual awakening happens in one’s life when sexuality comes to life with full force that gives rise also to a spiritual awakening. It begins in childhood, an adolescent phase, matures to old age where it bears fruit. Once a person has become spiritually aware, the task of sexual identity and spiritual identity are discovered. I come to accept myself as a sexual person of a certain sex and a certain sexual orientation. I begin to see myself as a spiritual person within a particular religion or belief. Commitment or decision is an important task in becoming a spiritual person. Goergen points out that the spiritual awakening brings spirituality to the level of awareness, the spiritual identity brings it to the level of self-acceptance and the commitment brings it to the level of responsibility. The commitment is not merely mine but it involves other people. In the celibate life, the commitment deals with community not only God and myself. I do agree with this statement, “The most effective way to prevent misconduct in ministry is to nurture healthy relationships with colleagues (i.e., members within congregations), with others, and with God, as well as to pay heed to mind-body-spirit connections” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).

The celibate life can be understood in the relationship of oneself to God, to fellow men and women. Celibate chastity is not something I can achieve once and for all but a life-long process that implies a growth toward maturity and union with God and others. Kierkegaard says that purity of heart was to will one thing. Even though I believe that the celibate life is my life I chose freely but as a normal human being, I believe that sometimes I fall short in temptations. It reminds me that I am not perfect, I still need to be humble asking God’s compassion and strength to stand up again toward the ideal. A spiritual person as Saint Augustine exemplified, is restless until one rests in God. “Spirituality is less about getting it right all the time and more about realizing that pain, struggle, and mistakes are an essential part of living. The full appreciation of inner serenity is achieved only after having to come to terms with one’s own weakness, limitations, and shortcomings” (Kevin P. McClone).

Goergen suggests to live and keep the celibate life, one should live it out in the spirit of discipline, solitude and joy. The discipline life is not for discipline itself but always for the integration and wholeness of the person. “Fulfillment paradoxically comes through healthy asceticism, sacrifice, and surrender” (Kevin P. McClone). The goal of solitude life is love and compassion. It must be based on prayer and meditation. In the Song of Songs the lovers after uttering extravagance of language realizes the insufficiency of words. “The search for love also reveals the need for a balance between solitude and intimacy. The call to intimacy is also a call to learn that, however much two people love each other, they never own each other nor finally know each other” (Philip Sheldrake). There are three spiritual joys in the heart of celibate person, namely friendship, ministry and prayer. These joys are never complete in our lives because our joys are mixed by negative feelings and experiences. Our joy will be completed perfectly by God in the eschatological kingdom.

CONCLUSION
To live the healthy human sexual development for ministry in my celibate life is not based on the celibate life of Jesus of Nazareth but upon Jesus of Nazareth as fully human, as a sexual and spiritual being, as man of faith, as God’s presence in history, as revelatory event, as corporate person, and as the Christ who calls us and invites us to live as He did and does. It is my duty as a celibate person to integrate my life of both a sexual and spiritual being at the service of God’s Kingdom. In order to endure this virtue I remember the Testament–Letter number 5 of the founder of the Xaverian Missionaries, Blessed Guido Conforti, “Remember, humility is the best safeguard of chastity. There is no better application for the wisdom of Sirach than here: ‘He who wastes the little he has will be stripped bare’ (Sir. 19:1).”

“Humility is recognizing our fundamental need for others and God. Humility is not thinking too much or too little of oneself but a more realistic acceptance of who we are with all our strengths and limitations” (Kevin P. McClone).


Tuesday, January 25, 2004. “I live no longer I, but Christ lives in me” (Paul, Gal 2:20)

Wednesday, January 26, 2004. “Love is so powerful that it makes one heart and one will of lover and beloved” (Catherine of Siena).

Thursday, January 27, 2004. “Obey divine inspirations that you may recognize as coming from the Holy Spirit” (Angela Merici).

In the afternoon we had a community meeting evaluating our community project of life in the dimension of community life.

Friday, January 28, 2004. “We need to be led to God by the world we sense and by thinking of Christ the man, so that seeing God with our own eyes we can be lifted up to love what we cannot see” (Thomas Aquinas)

I attended the last class of sexuality at CTU in which we did evaluation of the class and closing prayer and I submitted my final paper. After finishing the class we exchanged peace manner with embracing and hugging each other as I adjust and embrace this culture prudently while some of the professors touted me because of my ‘erotic’ prayer I uttered at the closing prayer.

To express my gratitude having finished my J-Term three weeks class at CTU, I headed to Saint Peter Loop Church run by Franciscan Friars (OFM) at downtown Chicago by CTA bus to receive the compassion and love of God through confession or sacrament of reconciliation that I believe a special grace of God offered to me.

In the evening after supper, I had plenty of time to write this journal.

Saturday, January 29, 2005. “It is difficult to become a saint. Difficult, but not impossible. The road to perfection is long, as long as one’s lifetime. Along the way, consolation becomes rest; but as soon as your strength is restored, you must diligently get up and resume the trip” (Padre Pio).

With Ignas and Father Rudi Subagyo, osc, I went to Taste of Indonesian 2005 for the Great Tsunami Relief at the Salvation Army, Des Plaines from 12.15 p.m. to 3.30 p.m. It was held by several Indonesian groups and corporations in Chicago and visited by Indonesian and American people who care of the suffering victims of this greatest natural disaster in the history of humanity in the world. There were also the Indonesian Consulate General in Chicago, Mr. Daulat Pasaribu and Jesse White the Secretary State. It was reported by some several mass media in Chicago such as Chicago Tribune, ABC News, CLTV, etc. The event consists of video clip presentation of the Tsunami tragedy, remarks by Indonesian Consul General in Chicago and Jesse White, Indonesian traditional songs, music and dances beside lunch. Congratulation to the committee who worked hand in hand so that this event of charity could be held successfully. They are Chicago City Blessing (CCBC), Glory of the Lord Fellowship Pentecostal Church (GOLF) Chicago, Indonesian Christian Fellowship (ICF) Chicago, Indonesian Students Association (PERMIAS) Chicago and Kalamazoo, International Full Gospel Fellowship (IFGF) Chicago, Masyarakat Budha Indonesia, Masyarakat Hindu Indonesia, Masyarakat Muslim Indonesia in Chicago, Persekutuan Masyarakat Kristen Indonesia di Chicago (PMKI) and Paguyuban Warga Katolik Indonesia di Chicago (PWKI). Special thank I implore to Ibu Imelda Palmas who invited us to come to this event. Thank you very much.

Sunday, January 30, 2005. “Blessed are the clean of heart, for they will see God” (Matthew 5).

In the morning at 8 I attended Mass at Saint Thomas Church then did some work at the basement and laundry. In the afternoon I cooked simple food: Pizza and Tom Yum soup.

Tomorrow morning, Monday till Friday evening, we as community will be at Portiuncula retreat house, about 40 minutes away South of Chicago to have retreat guided by an SCJ father, John Czyzinski (the present novice director of the Sacred Heart Fathers in Hyde Park, Chicago).

5) Hari Minggu Biasa ke-4, 30 Januari 2005

Senin, 24 Januari 2004. “Kita seharusnya tidak membuat suatu kompromi dengan kasih yang bertentangan dengan kasih Allah sendiri” (Fransiskus dari Sales).

Kami mendengar kabar duka cita bahwa kakak tertua dari Pastor Willy Mukucha, SX yaitu Leopold meninggal dunia karena sakit stroke di Kanada. Kami semua berdoa bagi arwahnya dan keluarganya di R.D. Congo.

Pada hari Jumat 28 Januari saya menghadiri kuliah hari terakhir untuk Perkembangan Seksualitas Manusia yang Sehat untuk karya kerasulan/pelayanan di CTU di mana saya juga pada kesempatan ini membagikannya kepada Anda sekalian. Dalam doa penutup pada kelas terakhir hari Jumat ini, kami masing-masing mendoakan doa ‘erotis’ karya kami dan di sini saya juga mensharingkannya pada Anda di awal paper akhir saya (namun paper lengkapnya silahkan dibaca di edisi bahasa Inggrisnya di atas).

HEALTHY HUMAN SEXUAL DEVELOPMENT FOR MINISTRY (I-4010)
J-Term 2005
Ya Allah, Dikau tak tersentuh oleh indera manusiawiku
Namun Dikau dapat disentuh oleh pikiran dan kata-kataku.

Pada permulaan Dikau menciptakanku dengan sentuhan kasih kedua orang tuaku
Pada permulaan Dikau menciptakanku dengan sentuhan kelamin papi dan mamiku
Pada permulaan Dikau menciptakanku dengan nafsu dan persetubuhan manusiawi
Pada permulaan Dikau menciptakanku melalui penetrasi dan ejakulasi
Pada permulaan Dikau menciptakanku dengan persatuan sel telur mamiku dan sel sperma papiku.

Kuserahkan pada belaian belas kasihMU:
Kesadaran daya seksualitasku,
Identitas daya seksualitasku sebagai seorang lelaki,
Komitmen daya seksualitasku sebagai seorang selibat.

Pada saat yang bersamaan pula aku menyerahkan padamu:
Kesadaran daya rohaniku,
Identitas daya rohaniku,
Komitmen daya rohaniku,
Dalam persatuan dengan Dikau dan sesamaku menuju Perkembangan Seksualitas Manusiawi yang sehat.
Demi Kristus, Guru cinta dan belas kasih kami,
Amin.

Selasa, 25 Januari 2004. “Aku hidup bukan lagi aku, namun Kristus hidup dalam diriku” (Paulus, Gal 2:20)

Rabu, 26 Januari 2004. “Cinta itu sedemikian dahsyatnya sehingga dapat membuat satu hati dan satu kehendak dari pencinta dan yang dicintai” (Katharina dari Siena).

Kamis, 27 Januari 2004. “Taatilah inspirasi ilahi yang mungkin engkau ketahui datang dari Roh Kudus” (Angela Merici).

Di sore hari kami mengadakan pertemuan komunitas mengevaluasi program hidup bersama kami yang kali ini adalah bagian dimensi hidup bersama.

Jumat, 28 Januari 2004. “Kita perlu dipandu menuju Allah oleh dunia yang mampu kita indera dan oleh pemikiran tentang Kristus manusiawi, sehingga melihat Allah dengan mata telanjang kita ini kita akan dapat terangkat pada cinta apa yang tidak mampu kita lihat” (Thomas Aquinas)

Saya menghadiri kelas terakhir tentang seksualitas di CTU di mana kami menuliskan evaluasi atas kuliah ini terutama atas materi kuliah ini dan cara penyampaian materi oleh para dosen rekanan lalu ditutup dengan doa pentutupan serta saya mengumpulkan paper akhirku. Setelah mengakhiri kelas ini kami saling membagikan salam damai dengan tradisi budaya Amerika Serikat ini saling berpelukan dan merangkul satu sama lain sebagaimana saya telah beradaptasi dan memeluk budaya ini dengan bijak sementara beberapa dosen memujiku karena doa ‘erotis’ ku yang kudoakan di acara doa penutupan ini.

Untuk mewujudnyatakan syukurku telah mengakhiri kuliah tiga minggu J-Term ini di CTU, saya pergi menuju Gereja Santo Petrus Loop di downtown Chicago yang dilayani oleh Ordo Fransiskan (OFM) dengan naik bis CTA untuk menerima belas kasih dan cinta Allah melalui pengakuan dosa atau sakramen rekonsiliasi yang kupercaya sebagai suatu rahmat khusus yang ditawarkan oleh Allah bagi diriku secara pribadi.

Malam hari setelah makan malam, saya punya banyak waktu untuk menulis jurnal mingguan saya ini.

Sabtu, 29 Januari 2004. “Adalah sulit untuk menjadi orang kudus. Sulit, namun bukannya tidak mungkin. Jalan menuju kesempurnaan itu panjang, sepanjang kurun waktu hidup seseorang. Sepanjang perjalanan, penghiburan menjadi peristirahatan; namun segera sesudah kekuatanmu pulih kembali, engkau haruslah dengan tekun bangun dan melanjutkan perjalanan ini” (Padre Pio).

Bersama dengan Ignas dan Romo Rudi Subagyo, osc, saya pergi ke sebuah acara penggalangan dana untuk korban Tsunami di Indonesia bernama TOFI (Taste of Indonesian 2005 for the Great Tsunami Relief) di the Salvation Army, Des Plaines dari jam 12.15 hingga 3.30 sore. Acara ini diadakan oleh beberapa kelompok dan organisasi Indonesia di Chicago dan sekitarnya dan dikunjungi oleh masyarakat Indonesia dan Amerika di Chicago yang peduli akan para korban bencana paling besar dalam sejarah kehidupan umat manusia di dunia, Tsunami 26 Desember 2004. Nampak pula dalam acara ini Bapak Konsul Jenderal Indonesia di Chicago Daulat Pasaribu dan Mr. Jesse White, the Secretary State. Acara ini diliput oleh berbagai macam media massa di Chicago seperti Chicago Tribune, ABC News, CLTV, dsb. Acara ini terdiri dari penayangan video klip tsunami ini, kata sambutan dari Pak Konjen dan Mr. Jesse White, lagu, musik dan tarian tradisional Indonesia serta makan siang. Selamat kepada seluruh anggota komite yang telah bekerja keras dalam kerjasamanya sehingga acara amal dana ini terselenggara dengan sukses. Mereka adalah Chicago City Blessing (CCBC), Glory of the Lord Fellowship Pentecostal Church (GOLF) Chicago, Indonesian Christian Fellowship (ICF) Chicago, Indonesian Students Association (PERMIAS) Chicago and Kalamazoo, International Full Gospel Fellowship (IFGF) Chicago, Masyarakat Budha Indonesia, Masyarakat Hindu Indonesia, Masyarakat Muslim Indonesia in Chicago, Persekutuan Masyarakat Kristen Indonesia di Chicago (PMKI) and Paguyuban Warga Katolik Indonesia di Chicago (PWKI). Ucapan terima kasih secara khusus saya haturkan untuk Ibu Imelda Palmas yang telah sudi mengundang kami untuk acara ini. Limpah terima kasih.

Minggu, 30 Januari 2004. “Terberkatilah mereka yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mateus 5).

Pagi hari pukul 8 saya ikut misa di Santo Thomas lalu mengerjakan sedikit kerja di basement dan cuci baju. Sore harinya saya memasak makanan yang siap saji tinggal dimasukkan oven, Pizza dan sup ala Thailand, Sup Tom Yum.

Besok hari Senin pagi hingga Jumat malam, kami akan berada ke rumah retret Fransiscan di Portiuncula, 40 menit sebelah Selatan Chicago untuk mengikuti retret bersama komunitas kami yang akan dipimpin oleh pastor SCJ bernama John Czyzinski (magister novis SCJ saat ini di Hyde Park, Chicago).

3rd Sunday in Ordinary Time, January 23, 2005

4) 3rd Sunday in Ordinary Time, January 23, 2005

Monday, January 17, 2004. “Three qualities of marriage are unconditional love, coming to consensus and active forgiving” (Kathy Haskin).

Today is the USA national day off, celebration of Martin Luther King Jr. In the morning from 10 to 12 I met a Canon Law professor, a Norbertin Abbot from Milwaukee, Father Gary Naville at CTU in order to do suggestion of my academic advisor, Gil Ostdiek, OFM to have private tutoring about Sacrament of Penance. I thank to him that he gave me enough explanation of the sacrament of penance and probably I will review again his handout given to me. One thing that is interesting to me: he has a principle that before we learn how to give sacrament of penance to the faithful, it is much better if I am as a seminarian having a custom to receive the sacrament and believe on the meaning of it and to live it out in my spiritual journey actively and consciously in which someday as a priest I will minister of it to others. This is exactly, the principle that I have until now. How we become faithfully and believe to give this sacrament to the faithful if we as priests are not confident and faithful to practice it. He added that most of the seminarians he taught in 1990’s at CTU, they did not go to the sacrament of penance frequently after many years. What an irony?

Tuesday, January 18, 2004. “All of the spirituality life can be summed up in two words, ‘Stay Awake.’” (Bishop Morneau of Green Bay).

Today in the Mass we celebrated the intention of Christian Unity (Oikumene). From 18 to 25 January there is a week of prayer by the Churches in the world. At CTU I attended a class of sexuality in which we watched a videocassette of Diane Bergant explaining the Book Song of Songs. Even though it was just a videocassette, I could not fall asleep because she has a sort of inner power to transfer her knowledge beside her talent of teaching.

Wednesday, January 19, 2004. “Marriage is a unique sign of the incarnation, of the mystery that the transcendent reality of God became flesh in the person and life of Christ, just as men and women incarnate their transforming reality of divine grace in their total love for one another” (Karl Rahner).

After arriving home at noon, I watched some videocassettes about sexuality that we have in the TV room at the basement in order to give me more understanding of the class that I have this month.

Thursday, January 20, 2004. “Love is not simply a matter of immediate feelings. There may be times, even in deep love commitments, when tangible feelings are absent” (Philip Sheldrake).

Almost the whole day it’s snowing. I had a discussion group in the sexuality class at the 8th floor of CTU building. In the afternoon, at 3 to 5 p.m. we had a community meeting continuing to evaluate our community project of life in the spiritual dimension. At night I did write this weekly journal that I draw the quotations from my reading on the sexuality class that I read during this week. As I read the reading assignments, I was impressed by some sentences, therefore I wrote down on this journal.

Friday, January 21, 2004. ”The search for love also reveals the need for a balance between solitude and intimacy. The call to intimacy is also a call to learn that, however much two people love each other, they never own each other nor finally know each other” (Philip Sheldrake).

In morning I attended a sexuality class at CTU and in the afternoon Dharmawan took me to my ministry site, David Darst Center. There was a youth group from Lansing Catholic High School in Michigan having this weekend retreat. They are 11 senior students (7 girls and 4 boys) and two teachers. This time Gayle, was not there since she went to visit her father who is sick in Missouri. So, this retreat was run only by Sister Paula and myself. In the first session I gave a game that has a meaning of cross, a rope game. It seemed they enjoy it. Dharmawan helped me prepare and lead the Taize prayer for night prayer. I stayed at this retreat house and Dharmawan left soon after the night prayer finished while snow was falling heavily.

Saturday, January 22, 2005. “Loneliness, vulnerability, and loss can stir sexual longing and create countertransferential reactions that, if left unprocessed, can add confusion to ministerial relationship. Sexual feelings need to be owned and processed in therapy, spiritual direction, supervision, support groups, and/or ministry groups” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).

Woke up in the morning, I shoveled bunch of snow at the front side of the retreat house. There was a volunteer lady named Peg O’Brien cooking for our breakfast and lunch. In the morning till noon, we were guided by an African American Christian Brother, named Raymond to a tour seeing South side area of Chicago by their white van car. After having lunch, we went to Blessed Sacrament Youth Center in which we intermingled with the youth mostly African American, playing games such as basketball, video games, pool, etc. We continued our visit to Lakeview Shelter and together with some homeless men, we had supper that was prepared by Sister Paula and their two teachers. The students had conversation with them and played games and jokes. At night, Sister Paula led them a reflection. It’s a tiring day with a lot of snow adorned the street about 6-12 inches.

Sunday, January 23, 2005. “The most effective way to prevent misconduct in ministry is to nurture healthy relationships with colleagues (i.e., members within congregations), with others, and with God, as well as to pay heed to mind-body-spirit connections” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).

In the morning once again I did clean snow in front of the door of the retreat house, had breakfast and together we had Mass at Saint Basil Catholic Church at 9. After the Mass, we went down to the basement having snack and hospitality with the parishioners who mostly are African American. We proceeded to visit ‘SU CASA’, a house of Catholic Workers in which there are about 30 people live there momentarily and mostly coming from Latin American countries. A German young man named Phil guided us to know this shelter mainly for women and children. They have also a soup kitchen serving lunch for the homeless people every Sunday. We joined them in serving food and eating lunch together. I met a Maryknoll student who just started his theology study at CTU this J-Term. He’s Tim originally from Philadelphia and knows Father Herondi, SX as well. At 1.30 p.m. we went back to David Darst retreat house and the students did some work to clean the retreat house and jotted down the evaluation for this weekend retreat. In the closing prayer led by Sister Paula, we anointed the students with oil as a sign of sending them “to spread the word for the poor, to heal the sick, to free the captives and to renew the face of the earth.” It’s a good retreat for me, at least I feel comfortable with the students who were friendly to me even though I have a silent character. I feel they accepted me and it’s good experience to listen their youth conversation along the way to go some sites. I tried to remember their names: Nick, Adam, David, Phil, Angi, Kellyn, Emily, Danielle, Erin, Kristina and Ashley. Their two teachers: Mr. Doug and Mrs. Marty. At 4 p.m. they departed to their hometown in Lansing, Michigan, about 4 hours away to North. Sister Paula took me home in Hyde Park at 5 p.m.

“Touch is to be used in ministry only to address the needs of the person the religious is assisting, not to meet the needs of the religious” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).

“Humility is recognizing our fundamental need for others and God. Humility is not thinking too much or too little of oneself but a more realistic acceptance of who we are with all our strengths and limitations” (Kevin P. McClone).

“Fulfillment paradoxically comes through healthy asceticism, sacrifice, and surrender” (Kevin P. McClone).

“Spirituality is less about getting it right all the time and more about realizing that pain, struggle, and mistakes are an essential part of living. The full appreciation of inner serenity is achieved only after having to come to terms with one’s own weakness, limitations, and shortcomings” (Kevin P. McClone).


4) Hari Minggu Biasa ke-3, 23 Januari 2005

Senin, 17 Januari 2004. “Tiga kualitas perkawinan adalah cinta tanpa syarat, pencapaian konsensus/kesepakatan dan pengampunan yang aktif” (Kathy Haskin).

Hari ini adalah hari libur nasional USA, merayakan hari Martin Luther King Jr. Pagi hari dari jam 10 hingga 12 siang, saya bertemu dosen Hukum Kanonik, seorang abas tarekat Norbertin dari Milwaukee, Pastor Gary Naville di CTU untuk memenuhi usulan penasehat akademis saya, Gil Ostdiek, OFM untuk mendapatkan kursus privat tentang Sakramen Rekonsiliasi menurut Hukum Gereja Katolik. Saya bersyukur kepada dosen ini yang sudah memberikan penjelasan yang cukup panjang lebar selama dua jam tentang sakramen tobat ini dan kemungkinan saya harus melihat kembali materi yang diberikannya padaku. Satu hal yang menarik adalah: dia berprinsip bahwa sebelum kita belajar memberikan sakramen tobat pada orang lain, sungguh lebih baik kalau saya sebagai seminaris memiliki keyakinan mendalam akan arti pentingnya sakramen ini dan menghidupinya/menjalankannya dalam perjalanan hidup rohani sebagai calon imam yang nantinya akan memberikan sakramen ini pada umat. Ini adalah prinsip yang saya yakini sejak dulu. Bagaimana kita dengan setia dan percaya memberikan sakramen tobat pada umat kalau kita sebagai imam tidak yakin dan menjalankannya dengan tekun. Ia menambahkan bahwa kebanyakan para seminaris/frater yang ia ajar di tahun 1990-an di CTU, mereka tidak pernah lagi pergi ke sakramen pengakuan dosa setelah sekian tahun lamanya. Betapa suatu ironi-kah?

Selasa, 18 Januari 2004. “Seluruh hidup kerohanian dapat diringkas dalam dua kata, ‘Tetap Berjaga/sadar.’” (Bishop Morneau of Green Bay).

Hari ini dalam misa kami merayakan intensi misa persatuan Umat Kristiani (Oikumene). Dari tanggal18 hingga 25 Januari ada pekan doa oleh gereja-gereja di seluruh dunia. Di CTU saya mengikuti kuliah seksualitas di mana kami menonton sebuah video yaitu seorang dosen Kitab Suci CTU bernama Diane Bergant menjelaskan Kitab Kidung Agung dari Perjanjian Lama. Kendati hanya menonton kaset video, namun saya tidak dapat tertidur karena memang dosen yang satu ini nampaknya memiliki semacam tenaga ‘dalam’ untuk menyampaikan pengetahuannya disamping bakatnya mengajar.

Rabu, 19 Januari 2004. “Perkawinan adalah suatu tanda unik dari inkarnasi, suatu misteri di mana realitas transenden Allah menjadi daging dalam diri dan kehidupan Kristus, seperti pria dan wanita menginkarnasi realitas yang tertransformasi oleh rahmat ilahi dalam cinta kasih yang utuh diantara mereka” (Karl Rahner).

Setelah tiba di rumah, saya menonton beberapa kaset video tentang seksualitas yang ada di ruang TV basement untuk menambah pemahaman pribadi tentang kelas seksualitas yang saya ambil di bulan Januari ini.

Kamis, 20 Januari 2004. “Cinta bukanlah semata perasaan belaka. Ada kalanya, dalam kasih penuh komitmen yang mendalam, perasaan-perasaan yang nyata ini tidak hadir” (Philip Sheldrake).

Hampir sepanjang hari ini hujan salju. Saya ke CTU mengikuti diskusi kelompok dalam kuliah seksualitas di lantai 8 gedung CTU. Di sore hari, dari jam 3 hingga 5 kami mengadakan rapat komunitas melanjutkan evaluasi program hidup bersama kami tentang dimensi kerohanian. Malam hari saya menulis jurnal mingguan ini di mana saya mengambil kutipan-kutipan dari bacaan kuliah seksualitas yang saya baca selama seminggu ini. Saat membaca tugas bacaan-bacaan ini, saya terkesan dengan beberapa kalimat, maka saya menuliskannya di jurnal ini.

Jumat, 21 Januari 2004. ”Pencarian cinta juga mewahyukan keperluan akan keseimbangan antara kesunyian dan intimasi. Panggilan untuk intimasi juga suatu panggilan untuk belajar, bahwa meskipun dua insan saling mencintai satu sama lain, mereka tak akan pernah saling memiliki, juga mereka akhirnya tidak akan mengenal satu sama lain” (Philip Sheldrake).

Pagi hari saya ikut kuliah seksualits di CTU dan sorenya Dharmawan mengantarku ke tempat kerasulanku di rumah retret, David Darst Center. Kali ini yang mengikuti retret adalah murid-murid SMA Katolik Lansing, Michigan. Mereka adalah 11 murid (7 puteri dan 4 putera) bersama kedua guru teologi/agama mereka. Kali ini Gayle, seorang volunter di rumah retret ini tidak di tempat karena dia mendadak harus pergi ke Missouri rumahnya, ayahnya sedang sakit berat. Maka retret ini hanya dipimpin oleh Suster Paula dan saya sendiri. Dalam sesi pertama saya memberikan permainan yang memiliki arti salib, yaitu permainan tali. Nampaknya mereka menikmati permainan ini. Dharmawan membantuku untuk menyiapkan dan memimpin lagu-lagu Taize untuk doa malam. Saya tetap tinggal di rumah retret ini hingga Minggu sore dan Dharmawan segera kembali ke rumah di Hyde Park setelah selesai doa malam sementara hujan salju terus turun dengan lebatnya malam itu.

Sabtu, 22 Januari 2004. “Kesepian, kerapuhan, dan kehilangan dapat menyebabkan kerinduan seksual dan menciptakan reaksi yang berlawanan, jika ditinggalkan tanpa pengolahan lebih lanjut, dapat menambah kebingungan dalam relasi dengan sesama di tempat kerasulan. Perassan seksual perlu dimiliki dan diproses dalam terapi, bimbingan rohani, dukungan kelompok, dan/atau kelompok-kelompok pelayanan” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).

Bangun pagi, saya lalu membersihkan banyak salju di depan rumah retret. Ada seorang volunter yang membantu masak pagi dan siang yaitu Peg O’Brien. Di pagi hari kami dipandu oleh seorang bruder dari tarekat Christian Brother yang adalah African American bernama Brother Raymond dalam tour melihat sisi sebelah Selatan Kota Chicago, sekitar Hyde Park dst. Setelah makan siang di rumah retret, kami mengunjungi sebuah pusat anak-anak muda di mana kami semua berbaur bersama anak-anak ini yang kebanyakan adalah African American bermain beberapa game seperti basket, vide game, bilyard, dsb. kami melanjutkan kunjungan kami ke sebuah tempat persinggahan kaum tuna wisma bernama Lakeview Shelter di sebelah Utara Chicago. Kami bercakap dan makan malam bersama para tuna wisma (semua laki-laki) yang kebanyakan adalah African American juga. Makan malam ini disiapkan oleh Suster Paula dan kedua guru mereka. Para murid peserta retret ini bercakap dan bermain games bersama penghuni rumah singgah ini. Malam hari setelah kembali ke rumah retret, Suster Paula memandu refleksi untuk hari ini. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan dengan banyaknya salju menghiasi jalanan setinggi 6-12 inci.

Minggu, 23 Januari 2004. “Cara paling efektif untuk mencegah kelakuan yang tidak pantas dalam pelayanan kerasulan adalah dengan memelihara relasi yang sehat dengan para kerabat (seperti anggota dalam tarekat religius), dengan sesama lainnya, dan dengan Allah, sebagaimana juga memberikan perhatian pada hubungan antara pikiran-tubuh-roh” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).

Pagi hari sekali lagi saya membersihkan salju di depan pintu rumah retret, sarapan pagi dan bersama-sama kami pergi ke misa di Gereja Santo Basil pukul 9. Sesudah misa kami pergi ke basement paroki ini makan snack dan berbincang dengan umat yang kebanyakan adalah African American. Kami melanjutkan kunjungan kami ke SU CASA yaitu sebuah rumah untuk Catholic Workers di mana terdapat sekitar 30 orang tinggal di sementara waktu dan kebanyakan adalah dari negara Latin Amerika. Seorang pemuda dari Jerman bernama Phil memandu kami mengenal rumah penampungan para imigran ini terutama para wanita dan anak-anak. Mereka juga memiliki sebuah dapur umum untuk para tuna wisma yang menyediakan makan siang setiap hari Minggu. Kami bergabung bersama mereka mempersiapkan makanan dan makan siang bersama para tuna wisma yang datang berjumlah sekitar hampir 100 orang. Di dapur umum ini juga saya bertemu seorang frater dari tarekat Maryknool yang baru saja memulai studi teologinya di CTU Chicago di Januari Term ini. Ia adalah Tim yang berasal dari Philadelphia dan mengenal Pastor Herondi, SX dari Brasil juga. Pukul 1.30 sore kami semua pulang kembali ke rumah retret dan para peserta retret ini mengerjakan beberapa hal seperti membantu membersihkan rumah retret ini dan menuliskan evaluasi mereka atas pengalaman retret ini. Dalam doa penutupan, dipandu oleh Suster Paula, kami mengurapi minyak di dahi para peserta retret ini sebagai tanda perutusan mereka “menyebarkan sabda bagi para papa, menyembuhkan yang sakit, membebaskan para tawanan dan memperbaharui muka bumi ini.” Retret kali ini sungguh suatu peristiwa yang sangat baik bagi saya pribadi setidaknya saya merasakan kenyamanan bersama para muda-mudi anak SMA tahun terakhir ini yang cukup menghormati dan bersahabat terhadap saya meskipun saya memiliki sikap tenang dan diam seperti ini. Saya pun merasakan bahwa mereka menerima saya apa adanya dan ini suatu pengalaman yang bagus mendengarkan anak muda Amrik ini bercanda, bercakap dengan bahasa gaul mereka di sepanjang perjalanan menuju ke tempat-tempat yang kami tuju. Saya mencoba mengingat nama-nama mereka selama retret sepekan ini yaitu: Nick, Adam, David, Phil, Angi, Kellyn, Emily, Danielle, Erin, Kristina dan Ashley. Serta kedua guru mereka: Mr. Doug dan Mrs. Marty. Pukul 4 mereka pergi meninggalkan rumah retret ini kembali ke kota mereka di Lansing, Michigan State, sekitar 4 jam perjalanan jauhnya di sebelah Utara Chicago. Suster Paula mengantar saya pulang ke rumah di Hyde Park pukul 5 sore.

“Sentuhan digunakan dalam pelayanan kerasulan hanya untuk keperluan seseorang yang dilayani oleh seorang religius, bukan untuk memenuhi kebutuhan seorang religius itu sendiri” (Donna J. Markham and Fran A. Repka).

“Kerendahan hati mengenal kebutuhan dasar kita akan sesama dan Allah. Kerendahan hati tidaklah berpikir terlalu banyak atau terlalu sedikit akan diri sendiri namun suatu penerimaan yang lebih nyata tentang siapa diri kita dengan segenap kelebihan dan keterbatasan kita” (Kevin P. McClone).

“Pemenuhan secara paradox (berlawanan) datang melalui askese/latihan, pengorbanan dan penyerahan diri yang sehat” (Kevin P. McClone).

“Spiritualitas bukanlah tentang mendapatkan sesuatu dengan benar setiap waktu namun terlebih tentang kesadaran bahwa kepedihan, perjuangan dan kesalahan adalah bagian mendasar dari kehidupan. Penghargaan penuh akan ketenangan batin dicapai hanya setelah seseorang mengalami masa-masa kelemahan, keterbatasan dan kekurangan” (Kevin P. McClone).